BOGOR - Pakar manajemen politik Universitas Indonesia Budi Sucipto menilai, pernyataan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam sambutannya di Rakornas Partai Demokrat 2011 merupakan kesempatan kedua yang ditawarkan pada kepemimpinan partai berlambang mercy itu.
Jika tidak digunakan dengan baik, bukan mustahil tidak lagi ada seorang Anas Urbaningrum, bahkan Susilo Bambang Yudhoyono di dalamnya.
"Pernyataan SBY merupakan kesempatan kedua bagi ketua umum, saya tidak yakin ada kesempatan ketiga, kita tunggu sampai 2012 kalau tidak ada perubahan, maka akan ada penggantian atau SBY cari kendaraan lain," ungkapnya usai mengisi acara Polemik Trijaya di Sentul, Sabtu (23/7/2011).
Sebelumnya, SBY dihadapan sekira 5.000 kader partai meminta Ketua Umum dan Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrat untuk mengendalikan kisruh maupun konflik yang tengah menerpa Partai Demokrat dengan penuh tanggung jawab.
"Karena pertempuran politik masih berlangsung, saya minta ketua umum dan dewan pimpinan pusat untuk mengendalikan dengan penuh tanggung jawab," kata SBY.
Menurut Budi, momentum tersebut hendaknya dapat dimanfaatkan Partai Demokrat untuk melakukan pembenahan dalam hal manajemen. "Jangan sia-siakan kesempatan kedua, bangun manajemen partai modern," tegasnya.
Selama ini, Budi menilai, partai pemenang pemilu ini belum memiliki sistem yang jelas. Kalau pun ada, bisa dibilang belum jalan. Bukti nyatanya, partai sebesar Demokrat masih kecolongan dalam memilih kader dan menempatkannya di posisi elit seperti Nazaruddin.
Budi memprediksi, jika sampai 2012 kisruh dan konflik yang bergejolak di tubuh Partai Demokrat tidak mereda, maka posisi kepemimpinan Anas Urbaningrum menjadi taruhannya. Tidak hanya itu, jika SBY sudah jengah dengan partainya, bukan mustahil dia akan berpindah hati dari Demokrat.
"SBY kan sudah tidak bisa mencalonkan lagi 2014, yang dia cari sekarang tinggal bagaimana menjalani pensiun dengan ketenangan, mudah baginya untuk pindah ke partai lain atau membuat partai baru," ungkapnya.
(TB Ardi Januar)