JAKARTA- Tertangkapnya mantan bendahara umum Partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin semakin santer dibicarakan di dunia maya. Termasuk Twitter.
Anggota Komisi I DPR yang juga pakar telematika Roy Suryo saling serang dengan Iwan Piliang, penggiat Jurnalisme warga di mikroblogging, Twitter. Apa sebabnya?
Roy Suryo yang menggunakan akun @KRMTRoySuryo mempertanyakan wawancara Iwan Piliang dengan Nazaruddin yang menurutnya terasa janggal. Karena menurut Roy Suryo, Iwan sengaja men-delay wawancara tersebut selama 18 jam sebelum disiarkan melalui stasiun Televisi swasta Metro TV.
“Faktanya adalah bahwa Skype yang dilakukan dengan Nazaruddin itu rekaman, dan ini ada maknanya,” kata Roy Suryo saat berbincang dengan okezone, Selasa (9/8/2011).
Dikatakan Roy, rekaman tersebut 18 Jam di delay. “Kalau Iwan jujur dia seharusnya juga menyampaikan rekaman tersebut pada Kamis malam. Undang semua media agar menyiarkan saat itu. Faktanya tidak. Iwan wawancara Kamis malam Jam 11 malam sampai setengah satu dan baru disiarkan Jumat hari berikutnya,” katanya
Terkait hal itu, Roy pun ditujukan langsung @Iwan Piliang di Twitter untuk mempertanyakan hal tersebut. Karena, kata Roy, hal itu sangat mengganggu penyelidikan kepolisian. “Sebelumnya kepolisian sudah mengetahui Nazaruddin di Dominika tapi Nazar sudah pergi, sesaat setelah wawancara Iwan dan Nazaruddin muncul di televisi swasta,” katanya.
Wawancara Iwan dengan Nazar ini sangat mengacaukan kepolisian. Andaikata live, tentunya NAzaruddin sudah bisa ditangkap saat itu. “Polisi tidak mendapatkan bantuan apapun dari Iwan. Bagi saya biar publik yang menilai,” katanya.
Terkait masalah tayangan rekaman yang ditunda itu, Iwan pun melalui akun twitternya menjawab santai. “@KRMTRoySuryo he he, 18 jam mulu? Tak ada kamus lain? Kreatif dikitlah,” tulis Iwan.
#TwitWar ini pun sempat berlangsung selama beberapa jam. Namun Roy Suryo enggan untuk membalas twitter Iwan “Tweeps Yth, saya tidak perlu melayani #TwitWar dari Iwan Pilliang yg sudah *sengaja* men-delay 18-jam Rekaman Skype saat itu » Transaksional,” katanya.
(Stefanus Yugo Hindarto)