JAKARTA - Dalam kurun waktu 50 tahun belakangan ekosistem di seantero jagad telah berubah jauh lebih cepat. Padahal, sumber daya alam hayati baik pada level global, regional maupun nasional untuk mendukung kebutuhan bahan makanan, air dan obat-obatan.
Menurut Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA), Darori saat meresmikan Pusat Rehabilitasi Primata Jawa di Bandung Selasa 13 September, berkurangnya sumber daya alam hayati itu terutama disebabkan karena adanya perubahan habitat over eksploitasi, introduksi spesies invansif dan perubahan iklim.
Sebagai gambaran, sejak tahun 2000, kawasan hutan primer dunia diperkirakan hilang sebanyak 6 juta hektare pertahun dan sekitar 35 persen kawasan hutan mangrove di berbabagai negara telah hilang 20 dekade," ujar Darori.
Selanjutnya Darori menambahkan, kelimpahan populasi tumbuhan dan satwa liar diperkirakan juga menurun sebanyak 40 persen antara 1970 hingga tahun 2000. Laju penurunan populasi tumbuhan dan satwa liar (TSL) secara tidak langsung juga dipicuh oleh aktifitas perdagangan internasional produk TSL.
Sementara itu, menyinggung Indonesia, Darori menjelaskan sebagai salah satu negara produsen utama dan supplyer berbagai produk TSL Tropis, Indonesia juga tidak luput dari berbagai persoalan sumberdaya hayatinya.
"Sebagai gambaran, sedikitnya 236 jenis satwa dan 58 jenis tumbuhan telah dimasukan sebagai yang dilindungi (PP N0.7 tahun 1999) karena keberadaannya di alam sudah semakin langka dan terancam punah, termasuk kelompok satwa primata yang hidup di Pulau Jawa di antaranya Owa Jawa, Surili dan Lutung Jawa.
"Populasinya semakin menurun karena kerusakan, terfrakmentasi dan hilang akibat pembangunan pemukiman, industri dan objek perburuan," terang Darori.
Kemudian dengan diresmikannya pusat rehabilitasi satwa ini diharapkan seluruh Owa Jawa, Lutung dan Surili dapat direhabilitasi kembali ke habitat alamnya dan pusat rehabilitasi ini dapat juga berfungsi sebagai tempat penelitian, pendidikan konservasi.
"Kepada masyarakat hendaknya mendukung dan membantu tujuan ini misalnya kepada yang memiliki, memelihara atau memperdagangkan satwa primata dapat meyerahkan secara sukarela kepada pemerintah," harapan Darori. (adv)
(Ahmad Dani)