JAKARTA - Psikolog sosial dari Universitas Airlangga, Bagus Ani Putra melihat adanya upaya untuk melakukan pembunuhan karakter terhadap organisasi massa Front Pembela Islam (FPI).
"Dari sudut pandang politis, ini pembunuhan karakter karena tidak suka dengan FPI," ujar Bagus kepada okezone, Selasa (15/2/2012).
Selain itu, sambung dia, ada pula upaya untuk membenturkan konflik horizontal di masyarakat oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab. "Kalau sudah seperti ini maka negara akan chaos sehingga muncul akumulasi kekecewaan dan tindakan anarkis yang merupakan penumpukan dari berbagai masalah," tuturnya.
Menurut Bagus, dalam kasus FPI ini pemerintah dinilai tidak tegas dalam penegakan hukum. "Sistemnya sudah jelas mengatur, yang melanggar hukum maka harus mempertanggungjawabkan perbuatanya," katanya.
Kendati demikian, Bagus tidak sepakat jika FPI dibubarkan melainkan harus dibina. "FPI dibina bukan dibekukan, sebagai shock terapi. Dibina oleh Kementrian Agama dan Kementrian Dalam Negeri. Pembinaanya seperti apa itu dibahas oleh mereka nantinya," tuturnya.
Namun yang pasti, lanjut Bagus, pimpinan FPI terlebih dahulu yang harus didekati baru kepada anggota FPI lainnya. "Pembinaan harus melibatkan pimpinan FPI. Selama pemimpin masih radikal tetap akan radikal anggotanya. Jadi sebagai tokoh kunci pimpinan FPI harus dipegang dulu," tutupnya. (sus)
(Ahmad Dani)