YOGYAKARTA - Muhammadiyah merupakan ormas Islam terbesar kedua di Indonesia yang tidak didesain sebagai partai politik. Namun demikian, ke depan Muhammadiyah diharapkan ikut ambil bagian dalam kekuasaan.
Ada harapan dari mantan Ketua Umum Pimpinan Muhammadiyah, Ahmad Safii Maarif agar di kemudian hari pemimpin negeri ini dipegang oleh orang muhammadiyah. Lalu, bagaimana caranya agar orang muhammadiyah itu bisa memimpin negeri?
"Sebagian orang Muhammadiyah yang punya bakat harus masuk ke politik, tetapi dia tidak boleh hilang kendali, sebab politik itu penting," kata Syafii Maaif kepada sekira 30 ribu massa Muhammadiyah yang hadir dalam milad satu abad Muhammadiyah di Spordium, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Minggu (18/11/2012).
Syafii menyampaikan, keikutsertaan orang muhammadiyah itu bisa menjadi pengurus partai politik tertentu. Dengan begitu, membuka jalan menuju puncak kepemimpinan negeri ini.
Ia berharap agar orang Muhammadiyah mengikuti perjuangan Amin Rais dalam berpolitik. Meski dalam pergerakan yang dilakukan Amin Rais berpolitik praktis dianggap gagal, tetapi hal itu harus menjadi semangat baru buat generasi lainnya.
"Ikuti jejak Amin Rais, tapi dalam bergerak harus lebih cepat, perhatikan culture kita, perhatikan culture lain seperti Jawa, Sumatra, dan sebagainya. Saling menyapa satu sama lain agar ada harapan Muhammadiyah memimpin negeri ini," kata pendiri Maarif Institute itu.
Syafii berharap, orang muhammadiyah melebarkan sayap, tidak hanya sibuk mengurus diri di organisasi, tapi untuk kemajuan bangsa ini. "Kita punya Presiden RI 1 Bung Karno, pernah menjadi koodinator Muhammadiyah. Kita punya Presiden R1 ke dua, pernah sekolah di Muhammadiyah, tapi kedua pemimpin itu masih banyak tapi-tapi-nya. Saya berharap orang muhammadiyah bisa menjadi pemimpin negeri dengan mengesampingkan organisasi dan memberi kemakmuran bagi bangsa dan negara," bebernya.
(Dede Suryana)