JAKARTA - Lembaga Survei Indonesia (LSI) menemukan mayoritas publik menilai ada jarak antara klaim agama dan perilaku elit politik sehingga kepercayaan masyarakat terhadap mereka semakin menurun.
Menurut hasil survei, sebesar 37,5 persen, masyarakat menilai politisi selama ini bertindak bertentangan dengan ajaran agamanya. Demikian diungkapkan Peneliti LSI, Rully Akbar, dalam konferensi persnya di Gedung LSI, Rawamangun, Jakarta Timur, Minggu (7/7/2013)
"Kementrian Agama justru dinilai paling korup. KPK pernah merilis hasil surveinya tahun 2011 dan menilai integritas mereka paling rendah dibandingkan dengan kementrian lainnya," kata Rully.
Bahkan, lanjut Rully, kasus korupsi pengadaan kitab suci Alquran meningkatkan kesenjangan perilaku elit dengan klaim agama yang mereka kedepankan. "Kitab sumber moralitas, kitab suci, pun dikorupsi," jelasnya.
Selain pada kementrian, LSI pun menilai partai berbasis agama seperti PKS yang dikenal memiliki proses kaderisasi yang ketat dan selektif turut terlibat kasus korupsi. "Kesalehan pribadi yang dilandasai keyakinan dan ketaatan menjalankan ajaran agama ternyata tidak mampu membendung syahwat pribadi yang koruptif," lanjut Rully.
Lebih lanjut, organisasi masyarakat berbasis agama yang sering melakukan tindak kekerasan dan main hakin sendiri dinilai LSI sebagai salah satu prilaku kesenjangan klaim agama dengan perilaku elit.
"Tapi disisi lain, aparat hukum terkesan melalukan pembiaran terhadap tindakan mereka. Publik berharap, pada bulan ramadhan, perilaku para elit bisa berubah menjadi lebih baik dan sesuai dengan yang diucapkan," pungkasnya.
Sebelumnya, LSI menemukan kepercayaan masyarakat terhadap elit politik menurun sebesar 17 persen sejak tahun 2005 sampai tahun ini.
(Muhammad Saifullah )