Rahasia Ruang Jiwa sang Arsitek

Rani Hardjanti, Jurnalis
Minggu 10 November 2013 18:47 WIB
Cosmaz D Gozali, Arsitek Indonesia yang mendunia. (Foto: Dok Okezone)
Share :

JAKARTA - Begitu surat ijazah kuliah diterbitkan pihak universitas, bukan berarti akhir dari perjuangan arsitek muda. Diperlukan sebuah metamorfosis agar bisa mengubah hidup menjadi lebih matang.

 

Arsitek kawakan, Arch. Dipl. Ing. Cosmas D Gozali, yang sudah malang melintang di dunia arsitek sejak 1990, membeberkan semua rahasianya kepada Okezone.

 

Cosmas adalah arsitek yang karyanya sudah mendunia. Yang terbaru, karyanya mendapat penghargaan dalam ajang Urban Planning and Design Competition "Jakarta Green Metropolis 2050". Selain itu, dia juga berpartisipasi sebagai pembicara di Symposium Smart City: The Next Generation Exhibition, di Berlin, Jerman. 

 

Bahkan, dia melakukan aksi yang tidak biasa dilakukan seorang arsitek. Dia menerbitkan buku berjudul Soul of Space yang berisi mengenai kiat sukses menjadi arsitek. Kemudian dia mencari sponsor agar bukunya dibeli. Setelah terjual, hasil dari penjualan buku tidak masuk ke kantong pribadinya. Dia justru menyumbangkannya kepada 71 universitas yang memiliki fakultas arsitek.

 

Atas aksinya tersebut, Cosmas ditegur oleh seorang rekannya. "Kenapa you lakukan itu? Itukan you punya rahasia. Nanti dicontek orang," cerita dia. Apa jawaban Cosmas, dan apa sebenarnya tujuan dia melakukan semua ini?

 

Berikut petikan wawancara khusus dengan Okezone, di ruang kerjanya, Jalan Sinabung, Jakarta Selatan, belum lama ini.

 

Bagaimana awal mula Anda tertarik di bidang arsitek?

Waktu saya kecil, saya suka diajak jalan-jalan sama ayah saya ke daerah Kebayoran. Pada waktu itu saya suka melihat gedung dan berbagai macam bangunan. Saya mencermati ragam bangunan sampai menengok ke belakang saat mobil ayah saya melaju.

 

Dulu waktu saya kelas 5 SD, juga suka pergi ke toko buku, waktu itu di Pasar Baru. Saya berdebar-debar kalau melihat buku arsitek.

 

Lalu, setelah saya lulus SMA saya diminta ambil kuliah jurusan information technology (IT), karena bagus prospek ke depannya. Tetapi saya tidak mau, saya berpikir saya tertarik untuk menjadi arsitek.

Saat bimbang memilih jurusan, apa yang Anda lakukan?

 

Saya mendengarkan kata hati saya. Saya sangat minat dengan arsitek. Kebetulan hal ini didukung oleh prestasi saya waktu SMA. Saya suka sekali pelajaran matematika dan ilmu ukur ruang. Nilai saya selalu 10 besar.

 

Saya juga berpikir, harus fokus pada bidang yang saya geluti. Begitu juga dengan risiko yang akan diterima di bidang tersebut.

Kenapa memilih kuliah di luar negeri?

 

Saya ingin mencari pengalaman yang baru. Trus pengalaman yang ada di sana saya bawa ke Indonesia. Di Austria, Eropa itu ilmu pengetahuan cukup maju pada waktu itu. Budaya teknologi yang pernah kita pelajari itu terbawa pada design yang saya terapkan saat ini. 

 

Tujuan pada akhirnya kan bagaimana bisa mengimplementasikannya. Karena saya berpikir, kok negara asing lebih mapan? Kenapa Indonesia tidak?

Bagaimana pengalaman Anda semasa kuliah?

 

Saya waktu kuliah berbeda dengan mahasiswa-mahasiwa lainnya. Saya kuliah karena mendapat beasiswa. Ketika teman-teman saya jalan-jalan liburan, saya memilih untuk belajar. Saya memberikan les ukur ruang. Itu kan salah satu mata kuliah yang sulit. Tetapi saya nilainya paling tinggi. Jadi saya terkenal, mahasiswa Indonesia yang nilai ukur ruangnya paling baik.

 

Saya juga pernah dicap tidak nasionalis, karena jarang  terlibat di acara Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI). Padahal saya benar-benar memaksimalkan waktu saya untuk belajar dari pada saya hanya happy-happy di kedutaan. 

 

Saya juga bekerja untuk profesor saya pada 1991 Atelier Reinhard Geiselman, Vienna, Austria. Kalau teman-teman pada pulang sore, saya pulang hingga larut malam. Saya sampai diminta pulang, tetapi saya bilang tidak, saya mau belajar. Istri si profesor sampai kasihan melihat saya giat bekerja, dia baik selalu membawakan saya makan dan mengingatkan untuk istirahat.

 

 

Anda giat bekerja dan belajar di negeri orang, kapan turning point untuk membangunan Indonesia?

 

Pada suatu kesempatan di tahun 1992, saya pulang ke Indonesia. Lalu saya melihat ada opportunity karena pembangunan sudah mulai marak. Lalu dalam diri saya berkata, ‘Ini saatnya saya kembali dan mengabdi kepada Indonesia’. Kemudian ketika kembali  untuk mengurus kepulangan, saya pamit ke profesor saya, dia merasa begitu kehilangan. Katanya dia begitu kehilangan anaknya yang sangat rajin bekerja.

 

Saya memulai kiprah sebagai arsitek di bawah PT Archindo Ciptakreatif sebagai direktur. Bersama rekan-rekan mulai mengerjakan proyek di Pondok Indah, Jakarta Selatan. Kemudian sejumlah proyek lainnya mengalir, hingga akhirnya saya membangun perusahaan sendiri yakni Atelier Cosmas Gozali (PT Arya Cipta Graha).

Perjalanan karier Anda menginspirasikan banyak orang. Lantas, apa yang perlu dilakukan oleh arsitek muda?

 

Problem arsitek muda saat ini adalah pemahaman terhadap material dan mengkombinasikan teknologinya. Banyak arsitek muda yang punya ide brilian. Tetapi mereka menyerah dalam merealisasikannya. Karena mereka terbentur dengan teknologi.

 

Begitu lulus kuliah, bukan berarti bisa segalanya. Arsitek muda harus belajar sendiri, cari tahu untuk meningkatkan kemampuan diri kita.

 

Pada 2015 tenaga kerja asing akan datang ke Indonesia. Boleh saja berasumsi, ah aku juga bisa kok ke luar negeri. Memang benar bisa, tetapi apakah skill arsitek muda  kita mampu mencapai standar negara asing? Nah ini yang menjadi concern saya. Supaya arsitek muda kita bisa kreatif dan tidak patah arang di tengah jalan.

Apa yang Anda teriakan ke kampus-kampus?

 

Tahun lalu saya launching buku Soul of Space. Bukannya saya mau menyombongkan diri. Tetapi saya melihat kualitas arsitek muda belakangan ini sangat  menurun. Karena profesi arsitek di Indonesia tidak ada harapannya.

 

Nah, di dalam buku ini ada tips-tipsnya semua buat arsitek muda. Ini untuk menunjukkan, ‘Hey kita tuh bisa kalau mau. Kalau mau, kita bisa sukses.’

 

Setelah buku terbit, saya cari sponsor yang mau membeli buku itu. Hasilnya, saya berikan

kepada 71 universitas yang memiliki fakultas arsitek. Tujuannya agar setiap mahasiswa di kampus tahu, ada lho artisek yang bisa mencapai jenjang seperti ini. Dan itu bukan hanya saya. Saya juga mengapproach teman-teman arsitek senior lainnya.

Kenapa Anda nekat melakukan itu?

 

Supaya aristek muda memiliki gambaran dan memiliki panutan, ada lho arsitek Indonesia yang bisa sampai go international, walaupun ukuran kesuksesan bukan hanya materi.

 

Saya pun ditegur oleh rekan saya, kenapa you lakukan itu? Itukan you punya rahasia. Nanti dicontek orang. Saya jawab, ah ini sama saja dengan resep bumbu nasi goreng. Semua orang tahu bumbu nasi goreng pakai bawang, kecap, dan garam. Tetapi kenapa si Mamat yang jualan nasi gorengnya paling laku? Pasti dia punya rezekinya sendiri. Saya berprinsip, rezeki dan kebahagiaan semua sudah ada yang mengatur.

Apa yang harus dilakukan oleh arsitek muda?

 

Belajar hanya dari teori di bangku kuliah itu sangat kurang. Kuliah kan sekarang memakan waktu empat tahun. Sementara kalau mau jadi master seperti saya, harus tujuh tahun. Jadi sebenarnya kurang dua hingga tiga tahun. Itu yang harus pelajari. Mahasiswa arsitek yang baru lulus harus berkorban untuk masuk ke dunia riil arsitek.

 

 

Kalian harus bekerja dulu. Jadilah konsultan lokal yang mempunyai kualitas. Jangan di perusahaan yang besar, karena kamu akan menjadi mesin di antara sekian banyak orang. Juga jangan cari perusahaan yang kecil, karena proyeknya tidak menantang.

 

Cari perusahaan yang sedang, tetapi proyeknya menantang dan kamu bisa dipegang. Misalnya proyek pembuatan residensial sampai bangunan-bangunan tinggi.

Apa manfaatnya?

 

Pengalaman itu yang paling penting. Belajar tambahan dua tahun. Kalau bisa lima tahun lebih baik. Baru bisa buka usaha arsitek sendiri.

 

Kalau  kita lulus kuliah usia 23 tahun. Terus hidup manusia rata-rata sampai usia 75 tahun. Berarti masih ada waktu 52 tahun untuk menjadi arsitek. Nah, dari 52 tahun itu berkorban 5-10 tahun untuk belajar masa enggak mau sih?

 

Belajarlah. Jadi di usia 40 tahun bisa menjadi arsitek yang baik. Karena sebagai profesi arsitek, tidak ada namanya pensiun. Profesi arsitek itu sampai mati ya hanya jadi arsitek.

 

 

Apakah profesi Arsitek sangat menjanjikan?

 

Menjanjikan dan sangat menjanjikan. Tapi yang penting jadi arsitek tetapi harus profesional. Jangan dipikir setelah lulus bisa mendapatkan semuanya. Enggak bisa, harus belajar terlebih dahulu.

 

Coba lihat di Bali. Banyak sekali arsitek Australia yang menggarap proyek-proyek hotel atau cottage. Tapi  sebenarnya belum tentu juga dia punya nama gaung di negerinya? Cuma nama Australia itu menjual. Trus, kita jadi apa? Penonton. Jangan salahkan kan developer atau  investor, karena mereka cari yang profesioal. Mereka tidak mau bayar karena profesionalismenya belum cukup. Kalau sudah begitu bagaimana? Kita harus belajar dari kesalahan dan terus memperbaikinya. Jangan kita diam saja, sementara kuenya diambil orang, kemudian baru sadar. Itu tidak bisa.

 

Membangunlah di sini, di Indonesia.  Banyak arsitek muda tergiur kerja di luar negeri. Kalau dapat perusahaan yang besar dan bagus, okelah. Kalau enggak ya bangunlah Indonesia. Kita masih bisa mengeksplorasi lebih banyak lagi, lakukan percobaan trial and error, istilahnya. Sehingga pengalaman kita lebih baik dan tepat.

Anda sudah berpengalaman membangun berbagai macam bangunan. Punya pengalaman unik?

 

Pada saat saya membangun rumah Duta Besar Swiss, saya tidak menggunakan batu dan bahan-bahan yang umum. Orang-orang bertanya, ‘Kenapa tidak pakai marmer dari Itali kualitas terbaik?’ Saya bilang, tidak. Saya memilih bahan-bahan dari Tanah Air. Tetapi begitu rumahnya sudah jadi, mereka terkagum-kagum tidak menyangka kalau itu semua dari bahan yang ada di Indonesia. Begitu juga dengan pelapis antipanas, saya menggunakan fiber berbahan dasar serabut kelapa. Itu bisa menjadi materi yang mungkin tidak terpikirkan oleh orang lain. Itu kembali lagi kepada penguasaan implementasi teknologi.

 

Negara kita membutuhkan arsitek, di daerah juga membutuhkan. Sekarang kan juga pembangunan gedung kementerian di Indonesia sudah melibatkan kementerian, contohnya gedung Kementerian Perdagangan.

 

Intinya, arsitek muda harus profesional. Jangan mengejar materi dulu. Nanti kalau sudah matang, materi itu akan ngekor. Materi itu datang sendiri.

 

Apakah Anda sudah merasa sukses?

 

Merasa sukses? Hmm.. saya rasa belum. Ini baru langkah awal.  Perjalanan saya masih panjang kalau menurut saya arsitek yang suskes, kalau suatu saat saya tidak ada lagi, arsitek-arsitek muda melakukan riset mengenai karya yang saya buat. Itu artinya saya baru sukses.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya