Konsep Digitalisasi Perpus Butuh Banyak Biaya

Margaret Puspitarini, Jurnalis
Rabu 26 Februari 2014 22:02 WIB
Ilustrasi : Reuters
Share :

JAKARTA - Konsep perpustakaan konvensional yang mengharuskan para pengguna mencari buku secara manual kerap kali membuat masyarakat enggan untuk memanfaatkan fasilitas tersebut. Namun, penggunaan konsep digitalisasi tersebut mendatangkan sejumlah konsekuensi.

Kepala Humas Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Agus Sutoyo menyebut, hampir semua perpustakaan baik perpustakaan nasional, provinsi maupun kabupaten/kota telah menerapkan perpustakaan digital. Namun, jika ukuran digitalisasi itu adalah e-book atau e-journal, tentu memang tidak semua perpustakaan mampu menyediakannya.

“Fasilitas ini hanya tersedia di perpustakaan nasional. Selain investasinya yang mahal, juga terbentur dengan masalah HKI karena tidak semua buku bisa dicopy dan dimasukkan ke e-book,” ujar Agus, seperti dinukil dari siaran pers yang diterima Okezone, Rabu (26/2/2014).

Selain itu, lanjutnya, tidak semua masyarakat bisa mengakses perpustakaan secara online. Masih banyak perpustakaan baik di provinsi maupun kabupaten/kota yang belum tersedia infrastruktur berupa jaringan untuk mengakses internet.

Karena itu, kata Agus, perpustakaan digital menjadi prioritas perpustakaan nasional di samping pemberdayaan perpustakaan desa. Dia optimistis pada 2019 seluruh perpustakaan di Indonesia mampu berkonsep digital.

“Target kami hingga akhir 2014, perpustakaan digital akan diterapkan di 75 persen perpustakaan di seluruh Indonesia. Saat ini ada 34 perpustakaan provinsi dan lebih dari 500 perpustakaan kabupaten/kota. Untuk mencapai 100 persen akan dilanjutkan pada periode berikutnya, yakni 2015-2019. Kami yakin akan mampu mencapainya,” ungkapnya.

(Margaret Puspitarini)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya