JAKARTA - Guru paling berharga adalah pengalaman. Maka tidak salah jika kita selalu memanfaatkan pengalaman orang lain sebagai sumber pembelajaran untuk menjadi lebih baik.
Berangkat dari niatan itu, para pelajar dan mahasiswa ini pun datang ke @america untuk mendengarkan curahan hati dan berdiskusi dengan empat jurnalis wanita dalam acara Making Names for Themselves: Woman in Journalism.
Keempat pembicara tersebut ialah News Anchor Metro TV Andini Effendi, Deputy Managing Editor Koran Sindo Hanna Fauzie, Managing Editor Tempo Media Group Bina Bektiati, dan Indonesia Correspondent for the Strait Times Zubaidah Nazeer.
Salah seorang peserta, yakni Syifa mengaku sangat tertarik dengan dunia jurnalistik, khususnya reporter. Oleh karena itu, dalam sesi tanya jawab pun pelajar kelas XI SMK Multicomp Depok itu meminta tips dari para narasumber untuk menjadi seorang jurnalis.
"Sejak SMP saya memang ingin jadi reporter. Makanya setelah lulus nanti ingin kuliah broadcast. Kalau tidak jadi reporter, saya ingin jadi fotografer," ujar Syifa kepada Okezone selepas acara di @america, Pacific Place, Jakarta Selatan, Selasa (29/4/2014).
Mendengar berbagai tips serta pengalaman yang dibagikan narasumber ternyata tidak membuat Syifa gentar. Dia justru semakin tertarik untuk masuk ke dalam dunia jurnalistik.
"Banyak banget yang saya dapat lewat acara ini. Enggak takut tuh. Biasa saja. Malah menantang. Kayaknya memang susah tapi seru," paparnya.
Senada dengan Syifa, Naraswari juga datang ke acara tersebut untuk memenuhi rasa ingin tahunya terhadap dunia jurnalistik. Bedanya, mahasiswa London School of Public Relation (LSPR) itu justru menemukan passion terhadap dunia jurnalistik ketika kuliah.
"Saya baru tahun pertama, belum penjurusan. Tapi nanti saat penjurusan mau pilih komunikasi massa (mascom) karena paling dekat dengan jurnalistik. Sebelumnya saya sudah pernah media visit jadi kurang lebih yang diperoleh sama, yakni tips-tips jadi wartawan. Dalam hal ini harus banyak belajar dan punya mental yang kuat," kata Naras.
Awalnya, Naras ingin menekuni dunia desain dan memilih jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) ketika kuliah. Sayang, orangtuanya menentang pilihan tersebut dan mengarahkan Naras untuk memilih jurusan lain.
"Tadinya ingin desain tapi enggak boleh sama orangtua. Mau psikologi juga enggak boleh. Akhirnya saya pilih komunikasi. Tapi makin ke sini makin suka dan ingin jadi reporter karena bisa bertemu orang banyak dan sering kalan-jalan. Maka, saya pun bergabung dengan klub di kampus yang menunjang keinginan tersebut. Selain belajar meliput, kemampuan desain saya juga terpakai di sini. Jadi tidak ada jurusan yang sia-sia," tutupnya.