JAKARTA - Dalam sejarah hadiah Nobel, Marie Curie adalah perempuan pertama yang menerimanya. Dia juga menjadi orang pertama yang meraih dua predikat bergengsi dalam dunia sains itu.
Pencapaian Marie ini merupakan buah kerja kerasnya selama bertahun-tahun dalam bidang radioaktif. Marie dan suaminya, Pierre Curie, memang mendedikasikan diri dalam berbagai riset di bidang berbahaya tersebut.
Berikut beberapa fakta menarik tentang Marie Curie seperti dirangkum Kampus Okezone, Selasa (10/6/2014).
Menggeluti penelitian radioaktif
Setelah fisikawan Prancis, Henri Becquerel, pertama kali menemukan sumber energi asing dari uranium (radioaktivitas) pada 1896, Marie memutuskan bahwa hal ini dapat menjadi bidang menarik untuk diteliti. Dengan bantuan suami dan elektrometernya, Marie membuat berbagai penemuan sains termasuk bahwa radiasi dikeluarkan oleh molekul atom dan bukan dari interaksi dari antarmolekul.
Pada 1898, riset Marie dan Pierre Curie unsur polonium dan radium. Nama polonium ini diambil dari negara tempat Marie dilahirkan, Polandia.
Pada 1903, Royal Swedish Academy of Sciences menganugerahi Pierre dan Marie Curie dengan Hadiah Nobel dalam bidang fisika untuk riset mereka tentang fenomena radiasi yang ditemukan Becquerel tersebut.
Marie Curie pun menjadi perempuan pertama yang meraih nobel di dua bidang berbeda, fisika dan kimia. Dia juga dikenal atas kontribusinya dalam teori radioaktifa, teknik mengisolasi isotop radioaktif dan penemuan dua unsur baru, polonium dan radium. Hasil kerjanya pun mendapatkan apresiasi dari para ilmuwan di penjuru dunia.
Berperan dalam Perang Dunia I
Pada 1914, Marie membuat kendaraan yang membawa mesin rontgen, "Petites Curies". Mesin x-ray ini membantu dokter melihat tulang yang patah, luka dan peluru di tubuh para tentara.
Dicurigai meninggal karena radioaktif
Ketika Pierre Curie meninggal pada 19 April 1906 karena kecelakaan lalu lintas, Marie menjadi begitu depresi. Beberapa pihak berspekulasi, Pierre menjadi lemah karena berbagai ekspos radiasi yang diterimanya. Tetapi teori ini tidak pernah terbukti.
Pada 4 Juli 1934, Marie Curie menghembuskan nafas terakhirnya. Dia meninggal di Sancellemoz Sanatorium, Passy, Haute-Savoie karena anemia aplastik.
Anemia aplastik adalah penyakit darah yang sangat langka. Akibatnya, rumor tentang paparan radium dalam waktu lama yang menjadi penyebab kematian Marie pun merebak.
Tetapi pada 1995, ahli radiologi menguji sisa tubuhnya dan menemukan bahwa tingkat radiasi di tubuhnya sangat rendah. Penemuan ini mengarahkan para ilmuwan pada kesimpulan bahwa kematian Marie disebabkan karena pekerjaannya dengan mesin X-ray pada perang dunia I.
Dikompilasi dari Huffington Post, Science Kidz dan Famous Scientists
Ikuti Try Out SBMPTN 2014 Hanya di Kampus Okezone
(Rifa Nadia Nurfuadah)