Cerita Getir Petugas Medis Ambulans di Gaza (1)

Rani Hardjanti, Jurnalis
Kamis 17 Juli 2014 12:21 WIB
Cerita Getir Petugas Medis Albuekas Ambulans di Gaza. (Foto: Aljazeera)
Share :

GAZA - Raungan ambulans, gempuran roket Isarel, jeritan warga di Gaza menjadi suara yang memilukan bagi Ibrahim Abuelkas. Dia harus bekerja dengan cepat dan membantu warga di Gaza yang terkena imbas gempuran militer Isreal.

Abuelkas bekerja delapan jam dalam satu hari, bergantian dengan sesama tenaga medis ambulans. Pria berusia 35 tahun ini menyusuri kota Gaza yang porak poranda tanpa banyak berkata. Laju ambulans yang dikemudikan supir cukup kencang untuk bisa mengangkut korban di sudut kota Gaza.

Dia pasrah dan tidak tahu ambulans akan menuju ke mana setiap harinya. Abuelkas juga tidak tahu apa yang akan terjadi bila dia turun dari ambulans. Yang pasti, dia menyusuri daerah yang sangat rawan terkena peluru atau hantaman roket Israel.

Berdasarkan catatan PBB, setidaknya sejak serangan Israel ke Gaza pada 7 Juli telah menelan koran jiwa seorang dokter dan 19 petugas medis terkena imbas gempuran roket militer.

Bapak lima anak ini bekerja menjalankan misi mulia, namun dipenuh dengan perasaan yang campur aduk. Istri dan anak-anaknya selalu merasa khawatir jika terjadi sesuatu pada Abuelkas. Dalam setiap perjalanannya, dia selalu membawa Alquran dan membacanya. Hal ini dilakukan mengingat bulan ini adalah bulan Ramadan. Bagi umat muslim, membaca Alquran adalah kegiatan ritual keagamaan yang sangat dianjurkan.

Abuelkas bercerita, ketika dia tiba di sebuah lokasi, orang-orang akan berlari ke arahnya dan berteriak-teriak, "Ambulans, datang ke sini, datang ke sini!" Orang-orang di Gaza berhamburan dan panik atas roket Isarel yang jatuh setiap menit. Mereka berusaha mengevakuasi perempuan dan anak-anak. Dibutuhkan keberanian untuk menghadapi situasi seperti itu.

Sopir ambulans pun tak kalah sigap. Dia mengendarai dengan cepat di antara kerumunan warga. Sementara lampu terus berkedip dan sirine ambulans terus meraung. "Biasanya kita melakukan perjalanan bersama ambulans lainnya ke lokasi yang sama untuk membantu sebanyak mungkin," kata Abuelkas, seperti dikutip Aljazeera, Kamis (17/7/2014).

Ketika menemukan korban, Abuelkas langsung membantunya memasukan ke bagian belakang ambulans. Kemudian membawa korban secepat mungkin ke Rumah Sakit (RS) al-Shifa.

Saat tiba, di RS al-Shifa, tim penyelamatan operasional langsung membuka pintu ambulans untuk memindahkan pasien dengan tandu ke dalam RS.

Selanjutnya para pekerja lainnya membersihkan ambulans, memeriksa pasokan dan obat yang bisa dibagikan. Di sini petugas medis bisa istirahat sejenak sampai panggilan berikutnya datang. Jika penugasan telah diberikan, saatnya Albuekas menyusuri wilayah mencekam lainnya di Gaza.

Albuekas bercerita, dia memiliki pengalaman yang sangat getir saat mengevakuasi korban. (Bersambung)

(Rani Hardjanti)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya