KARANGANYAR - Jemu atas sikap pengajarnya yang arogan, puluhan siswa SMK Bhakti Karya (BK) Karanganyar mogok mengikuti Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), Kamis (8/10/2015). Para siswa kelas XI dan XII itu mengaku stres berat lantaran sering menerima hukuman fisik.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, puluhan siswa tersebut memilih duduk-duduk di lapangan sekolah, alih-alih mengikuti pelajaran di jam pertama. Hal ini membuat para guru khawatir sehingga meminta pengawalan polisi.
Usut punya usut, para siswa sering dihukum berlari mengelilingi lapangan. Kemudian berguling-guling di bawah terik matahari lalu dilanjutkan dengan hukuman push up.
Berbagai macam hukuman semi militer itu dijatuhkan kepada siswa yang melakukan kesalahan sederhana seperti terlambat masuk sekolah.
Salah seorang siswa berinisial AN mengatakan hukuman tak logis itu dijatuhkan seorang guru berinisial WCN. Setiap kali menghukum, guru tersebut berdalih mendapat mandat dari Kepala Sekolah SMK BK Sri Eka Lelana.
“Murid perempuan dan laki-laki dihukum sama. Seperti push up berantai, lalu berguling di lapangan. Semacam di militer saja, penuh kekerasan. Kami ini mau berkonsentrasi belajar menghadapi ujian. Jangan dihukum terus,” ujar siswa yang engan disebut namanya.
Ia mengatakan, aksi mogok belajar juga untuk mengingatkan pihak sekolah agar berlaku adil dalam memberikan beasiswa pendidikan. Sebab, siswa menuding kepala sekolah (Kepsek) dan oknum guru tersebut pilih kasih.
Ketika wartawan ingin melakukan peliputan unjuk rasa siswa, pihak sekolah seakan menutupinya. Beberapa siswa mengatakan, persoalan itu hendak diselesaikan secara internal alias bukan konsumsi publik.
Berdasarkan pantauan, setelah mogok belajar kemudian puluhan siswa beranjak dari lapangan sekolah menuju ruangan mediasi yang digelar secara tertutup.
Kepada wartawan di ruangannya, Kepsek SMK BK, Sri Eka Lelana, menolak dianggap arogan dan terlalu keras memberi hukuman, seperti tudingan siswa terhadap dirinya. Menurutnya, jenis hukuman untuk membentuk kedisiplinan itu masih wajar.
Meskipun demikian, ia mengakui adanya siswa yang langganan dihukum karena sering terlambat mengikuti jam pelajaran. “Tidak sepenuhnya kekerasan. Tujuan kami selaku pendidik untuk menumbuhkan kedisiplinan. Termasuk memberi pembinaan siswa yang melanggar aturan,” pungkasnya.
(Fachri Fachrudin)