“Kami menemukan banyak sampah plastik dalam organ pencernaannya. Hanya sedikit rumput laut dan banyak organisme dalam tabung pipa yang masih dalam proses identifikasi. Semua ini menunjukkan bahwa ia mencoba untuk mencari makan di daerah dangkal teluk kami, saking depresinya,” terang peneliti perempuan itu.
Kondisi paus itu terbilang tragis karena biasanya paus pembunuh berada di perairan dalam dan hanya memakan mamalia lain, seperti burung seagul, lumba-lumba atau ikan besar dan cumi-cumi.
“Sangat mungkin bahwa individu ini menjadi sakit dan terlalu lemah untuk berburu sehingga ia berenang sampai ke perairan dangkal dekat pantai dan mencoba memakan apa pun yang tersedia dan mudah untuk ditemukan,” ujar Penry.
Penry menambahkan, untuk sekarang, penelitian atas penyebab kematian paus orca tersebut masih dalam proses penelitian.
Sampel organ dan darah mamalia laut itu akan dianalisis secara toksikologi (kadar racunnya), patologi (perubahan fungsi atau keadaan bagian tubuh) dan mikroplastik.
(Randy Wirayudha)