JAKARTA – Bertempat di Kedutaan Besar Bangladesh, Jalan Karang Asem Utara, Kuningan Timur. Duta besar Bangladesh untuk Indonesia Nazmul Quaunine menjamu ratusan warga negaranya yang tinggal di Jakarta untuk merayakan Hari Bahasa Nasional sekaligus Internasional.
Ribuan warga Bangladesh yang tinggal di Jakarta datang mengenakan pakaian adat mereka, terutama para perempuan yang tampak anggun memakai kain sari. Tidak hanya orang dewasa, Hari Bahasa Internasional ini juga dihadiri anak-anak, yang menggambari pipi kedua pipi mereka dengan Shaheed Minar (Monumen Martir di Bangladesh) di sebelah kanan, dan aksara Bengali di pipi kiri. Sementara ayah ibu mereka membubuhkan dua simbol perjuangan itu di lengan tangan mereka.
Bersama beberapa perwakilan dari Indonesia dan UNESCO, prosesi dimulai di halaman depan kedutaan, dengan latar lantai penuh warna yang menggambarkan simbol martir pemuda Bangla. Diikuti pemberian seserahan dari perwakilan diplomatik kepada Dubes Bangladesh.
Pengakuan hari bahasa oleh dunia internasional memainkan peranan yang sangat penting. Sebab, seperti kata tokoh pendidikan Indonesia Arief Rachman yang turut hadir dalam kesempatan ini, tanpa bahasa, manusia akan punah.
“Semua bahasa perlu dilindungi kelestariannya. Kami sangat mengapresiasi gerakan bahasa ini, sehingga sekarang seluruh dunia memperjuangkan hak pengakuan bagi bahasa ibu mereka. Di Indonesia, kita punya 783 bahasa daerah. Dan setiap tahunnya, 1-2 bahasa kami punah. Inilah yang masih perlu diperjuangkan untuk generasi mendatang,” ujar Arief dalam kata sambutannya di kedutaan besar Bangladesh, Minggu (21/2/2016).
Hari bahasa nasional diperingati setiap tanggal 21 Februari. Hari di mana ribuan mahasiswa Bangladesh (saat itu masih tergabung dalam Pakistan Timur) turun ke jalan memperjuangkan pengakuan atas bahasa asli mereka, bahasa Bangla. Aksi protes yang berujung penembakan dari pihak kepolisian Dhaka (kini Ibu Kota Bangladesh).
Perjuangan tumpah darah yang pecah pada 1952 itu tak berakhir sia-sia. Setelah konflik dalam negeri yang berkepanjangan, pada 1956 Bahasa Bengali atau Bangla akhirnya diakui sebagai bahasa nasioanal kedua, setelah bahasa Pakistan.
Berawal dari gerakan bahasa Bangla oleh para pemuda itulah, UNESCO menetapkan 21 Februari sebagai Hari Gerakan Bahasa Internasional.
(Silviana Dharma)