POLMAN – Selain Daeng Azis, ada sejumlah preman di kawasan Kalijodo, Penjaringan, Jakarta Utara. Salah satunya adalah Udin Gondorong.
Namun ia kini lebih memilih kembali ke kampung halamannya di Desa Mapilli Barat, Kecamatan Luyo, Polewali Mandar, Sulawesi Barat, untuk bekerja dan menghidupi keluarganya.
Meski penghasilanya kecil sebagai sopir angkot, namun mantan preman Kalijodo yang ditakuti ini senang bisa keluar dari dunia hitam. Bahkan, kata dia, hidup sekarang lebih bahagia bersama keluarganya.
Udin mengatakan, dirinya berkuasa di Kalijodo sebelum Daeng Azis jadi pentolan di sana. Pria berambut gondrong dan kumis bertebal ini meninggalkan Kalijodo pasca-terjadinya kerusuhan pada 2002.
Saat ditemui sejumlah awak media, pria berusia 57 tahun itu sempat menceritakan banyak hal mengenai Kalijodo pada era tahun 1990-an hingga 2002.
Saat itu, kelompoknya bernama Sinar Budi. Lalu diubah menjadi Macan, singkatan dari Mandar Macanga.
Menurut pria beranak tujuh dan bercucu dua itu, di Kalijodo dulunya hanya ada beberapa tokoh masyrakat asal Mandar. Mereka bertugas mengawasi kegiatan perjudian kopro dan prostitusi.
Pada saat itu Daeng Azis bukanlah preman yang disegani dan belum menguasai Kalijodo. Namun karena memiliki modal banyak, Daeng Azis akhirnya membangun sebuah bar yang masih berukuran kecil.
Sedang masa kejayaan Udin berakhir setelah insiden kerusuhan antara kelompok Macan dengan kelompok Bugis yang bergabung dengan Banten dan Kulon pada 2002.
Udin Gondrong sendiri usai terjadinya kerusuhan, memilih untuk kembali ke kampung halamnya, yakni di Desa Mapilli.
Kini mantan preman yang disegani di Kalijodo ini telah menjadi sopir angkot. Bahkan menurut pengakuan istrinya, Udin telah menjadi sosok yang sangat sayang kepada keluarga.
(Abu Sahma Pane)