Kilas Balik RA Kartini, Hari-Hari Menegangkan Sebelum Menikah (1)

Mustholih, Jurnalis
Kamis 21 April 2016 08:02 WIB
Kartini. (dok.Okezone)
Share :

JEPARA - Pada 137 tahun lalu, di Mayong, Jepara, lahir bayi perempuan yang ditakdirkan bakal menjadi pembaharu bagi kaumnya yang dimarjinalkan oleh adat feodalisme Jawa. Dia adalah Raden Ajeng Kartini Djoyohadiningrat, anak keempat Bupati Jepara, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, dari rahim istri pertamanya, Mas Ajeng Ngasirah.

"Kartini kalau saya bilang ditakdirkan menjadi Pembaharu. Dia selalu beruntung mendapat teman-teman yang selalu bisa mengembangkan pemikiran-pemikiran kritis," kata Penulis Buku Kartini Pembaharu Peradaban, Hadi Priyanto, kepada Okezone, Jepara, Jawa Tengah.

RA Kartini lahir pada 21 April 1879 saat ayahnya menjabat sebagai Wedana Mayong. Menurut Hadi, Kartini sejak kecil merupakan pribadi riang tapi cerdas yang sewaktu-waktu bisa berulah nakal lazimnya anak-anak.

"Dia seperti gadis biasa, lincah yang kadang-kadang nakal. (Pernah), Mbah Danu, karena galak, tempatnya buat nginang dikasih garam. Ruang pingitan, pintu depan dijaga Mbah Danu, dia sering melompat ke jendela, bermain," ujar pria yang menjabat sebagai Kepala Bagian Humas Pemerintah Kabupaten Jepara tersebut.

Meski begitu, Kartini punya pemikiran-pemikiran cemerlang yang melampaui zamannya. Dari surat-surat Kartini, kata Hadi, betapa istri Bupati Rembang, RM Adipati Ario Singgih Djojo Adiningrat, ini ingin adanya persamaan derajat antara kaum perempuan dengan kaum laki-laki Jawa, terutama dari aspek pendidikan.

Menurut Hadi Priyanto, RA Kartini menikah dengan Bupati Rembang pada umur 23 tahun. Dari pernikahannya tersebut, Kartini dianugerahi seorang putra yang dinamai RM Soesalit.

Hadi menyatakan untuk ukuran Jawa, Kartini tergolong perempuan yang telat menikah. "Karena pada saat itu, perempuan sudah menikah di usia 16 atau 17 tahun. Untuk ukuran Jawa, Kartini sudah perawan tua dan itu memalukan," tegas Hadi.

Karena ingin berkonsentrasi menjadi Guru, Hadi menambahkan, dari awal Kartini sebenarnya bertekad tidak mau menikah dengan siapapun. Namun, karena tidak ingin melukai hati ayahnya yang sudah sakit-sakitan, akhirnya Kartini mengalah saat dilamar oleh Bupati Rembang.

"Saat dia mendapat lamaran dia tidak serta merta menerima. Dia minta waktu tiga hari untuk berpikir," ujar Hadi.

Padahal, kata Hadi, waktu tiga hari itu sebenarnya merupakan siasat Kartini untuk mengelak dari pernikahan. "Sebenarnya dia menunggu beasiswa dari (Rosa) Abandanon untuk sekolah di Batavia. Tiga hari itu waktu yang sangat menegangkan. Harapannya kalau surat itu turun dia bisa mengeelak," ujar Hadi.

Sayang, surat dari Abandanon itu turun sehari setelah batas waktu untuk menimbang itu berakhir. Lamaran Bupati Rembang pun akhirnya diterima Kartini dengan sejumlah syarat. "Kartini bersedia menikah dengan syarat tidak akan kromo, tidak menyembah, dan tidak ada pesta," kata Hadi.

(Abu Sahma Pane)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya