Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kisah Kartini Perjuangkan Kesetaraan Hak Perempuan hingga Harus Rela Jadi Istri ke-4 Bupati

Fahmi Firdaus , Jurnalis-Selasa, 21 April 2026 |07:22 WIB
Kisah Kartini Perjuangkan Kesetaraan Hak Perempuan hingga Harus Rela Jadi Istri ke-4 Bupati
Kisah Kartini Perjuangkan Kesetaraan Hak Perempuan hingga Harus Rela Jadi Istri ke-4 Bupati
A
A
A

JAKARTA – Setiap tanggal 21 April kita memperingati Hari Kartini untuk mengingat semangat perjuangan Raden Ajeng (RA) Kartini.  Perempuan kelahiran Mayong, Jepara, 21 April 1879 ini dikenal sebagai pahlawan nasional yang memperjuangkan kesetaraan hak bagi perempuan.

Kartini adalah putri Bupati Jepara, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, dan Mas Ajeng Ngasirah. Ayahnya kemudian menikah lagi dengan Raden Ajeng Moeryam dan dikaruniai 3 orang anak.

Melansir buku Sisi Lain Kartini yang ditulis oleh Djoko Marhandono, dkk, Selasa (21/4/2026),  keputusan sang ayah untuk melakukan poligami membuat Kartini mengalami pergolakan batin.

Apalagi, saat ayahnya diangkat menjadi bupati Jepara yang membuat istri kedua ayahnya menjadi istri utama, sebab ia berasal dari keluarga bangsawan pula. Hal tersebut menjadikan Moeryam sebagai garwa padmi dan Ngasirah berkedudukan sebagai garwa ampil.

Alhasil, Kartini dan saudara-saudara harus memanggil ibu kandung mereka dengan sebutan ‘Yu’. Sementara, ibu tirinya mereka panggil dengan ‘Ibu’. Yang lebih ironis, Ngasirah harus memanggil anak-anaknya dengan sebutan ‘Ndoro’.

Sejak kecil, Kartini memang terlihat lebih aktif dan lincah dibanding saudara-saudaranya. Ia juga berani dengan pemikirannya yang kritis. Hal itu ia utarakan kepada sahabat penanya di Belanda, Estelle Zeehandelaar pada 18 Agustus 1899.

Kartini mengaku, sering tertawa terbahak-bahak dan menunjukkan banyak giginya. Tindakan itu sebenarnya dilarang dan mencerminkan ketidaksopanan. Karena tingkahnya yang aktif, ia dipanggil Trinil atau Nil oleh ayah dan saudaranya.

Dalam buku R.A. Kartini: Biografi Singkat 1879-1904 karya Imron Rosyadi, disebutkan bahwa kakek Kartini, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, sudah diangkat sebagai bupati di usianya yang baru menginjak 25 tahun. Dirinya juga mendidik semua anak-anaknya dengan ajaran Barat. Bahkan, mendatangkan guru khusus dari Belanda.

 

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement