SEMARANG - Semangat patriotisme Kiai Soleh Darat tak hanya diwarisi dari ayahnya, KH Umar As Samarani, tetapi juga dari mertuanya KH Murtadlo. Bahkan, pondok pesantren yang diasuh mertuanya itu menjadi markas bagi prajurit Pangeran Diponegoro.
“Kiai Murtadlo itu panglimanya Pangeran Diponegoro, sehingga wajar bila pondok pesantrennya dijadikan markas perjuangan melawan penjajah Belanda. Setelah Mbah Soleh pulang dari Makkah langsung dipasrahi mengurus pondok mertuanya,” tutur penulis buku Biografi KH Sholeh Darat, Mohammad Ichwan, kepada Okezone, Jumat (18/3/2016).
Pondok pesantren yang berada di Dukuh Darat, Kelurahan Dadap Sari, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang, Jawa Tengah, itu berkembang pesat sejak dipegang Kiai Soleh Darat. Keilmuannya yang luas diakui hingga internasional. Tak heran, murid-muridnya datang dari berbagai penjuru untuk belajar dari kiai kharismatik itu.
“Murid-muridnya kemudian kemudian menjadi tokoh-tokoh yang luar biasa, sebut saja KH Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan, KH Idris, KH Moenawir dan lainnya. Mereka tak hanya mendapatkan ilmu agama, tapi juga ditekankan jiwa nasionalismenya,” tegas Ichwan.
Setelah Kiai Soleh Darat memfatwakan warga pribumi haram mengenakan pakaian mirip yang dipakai orang Belanda, murid-muridnya pun mengikuti jejak tersebut. Di antaranya KH Hasyim Asy’ari yang juga menyerukan larangan orang pribumi meniru pakaian penjajah.
“Misalnya pakaian jas, dasi, celana itu diharamkan oleh Mbah Soleh. Ini bentuk perlawanan melalui jalur intelektual. Habis itu, murid-murid beliau juga memberi fatwa yang sama pada murid-murid seterusnya,” tambah anggota keluarga Kiai Soleh Darat, Agus Tiyanto.
(Risna Nur Rahayu)