Kisah sang Juru Kunci Petilasan Ratu Mahapahit (1)

Zen Arivin, Jurnalis
Selasa 26 April 2016 05:01 WIB
Salah Satu Arca di Petilasan Watu Ombo (Foto: Zen/Okezone)
Share :

MOJOKERTO - Kabupaten Mojokerto, merupakan bekas Ibu Kota Kerajaan Majapahit. Tentu saja, daerah ini memiliki segudang tempat-tempat yang memiliki nilai sejarah tinggi. Salah satunya, yakni petilasan Watu Ombo.

Hampir semua lokasi bersejarah di Kabupaten Mojokerto, memiliki cerita mistis tersendiri. Begitu juga petilasan Watu Ombo yang terdapat di Desa Klinterejo, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto. Konon, tempat ini merupakan lokasi yang digunakan berbagai tokoh kerajaan majapahit untuk bersemedi, meminta petunjuk dari yang Esa.

Muhammad Zainuri, (46) juru kunci petilasan Watun Ombo mengatakan, konon petilasan ini dahulu kala, digunakan empat tokoh dari kerajaan majapahit. Yakni Tribuana Tungga Dewi, Resi Maudara, Sabdo Palon dan Noyo Genggong.

"Tribuana Tungga Dewi itu merupakan ratu ketiga Majapahit. Putri dari permaisuri Gayatri istri Raden Wijaya dan ibu dari prabu Hayam Wuruk. Sedangkan Resi Maudara merupakan ayah dari Damar Wulan, dan Sabdo Palon Noyo Genggong merupakan abdi dari Damar Wulan," ujarnya, Senin (25/4/2016).

Zainuri sendiri, mengaku merupakan generasi ketiga yang menjadi juru kunci di petilasan Watu Ombo ini. Menurut sepengetahuannya, kakeknya yakni almarhum Naserum yang menjadi juru kunci pertama. Kemudian dilanjutkan oleh bapaknya yang bernama Jali.

"Saya sudah 26 tahun menjadi juru kunci disini. Melanjutkan apa yang dilakukan bapak dan kakek saya sebagai kuncen di petilasan Watu Ombo ini," imbuhnya.

Selama ini, petilasan Watu Ombo kerap dikunjungi para wisatawan. Mereka yang datang, mayoritas adalah penganut ajaran hindu. Namun, tidak sedikit juga mereka yang beragama islam.

"Dari luar kota juga ada. Rata-rata dari bali, karena memang ada kesamaan keyakinan. Tujuannya macam-macam. Ada yang berdoa agar segera dapat jodoh, ada yang mencari obat dan ada juga yang untuk pangkat. Tergantung dari niat masing-masing," ungkapnya.

Menurut penuturan Zainuri, kebenaran cerita yang diterimanya dari leluhurnya yang sudah turun temurun menjadi juru kunci itu diamininya setelah Zainuri mendapatkan petunjuk melalui sebuah mimpi. Yakni, tepat setelah orang tuanya meninggal dunia.

"Saat itu tepat 40 harinya bapak. Saya tidur di Tribuana ini dan mimpi ada beliau dan dayangnya 4 pakaiannya kuning dan menggunakan mahkota. Saya diberi bokor (tempat air siraman) agak besar, terbuat dari emas. Saya diminta merawat. Kejadiannya tahun 1998," tandasnya.

(Angkasa Yudhistira)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya