LAMPUNG TIMUR - Elemen masyarakat di Provinsi Lampung yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Tolak Kekerasan Seksual menggelar kegiatan malam simpati dukungan dan doa dengan menyalakan 1.000 lilin untuk korban kekerasan seksual di Kabupaten Lampung Timur.
Kegiatan menyalakan 1.000 lilin untuk Mistianah (10), siswi SD yang tewas akibat tindak kekerasan seksual di Kecamatan Jepara, Kabupaten Lampung Timur itu digelar di Lapangan Sribhawono, Kecamatan Bandar Sribhawono, Rabu (11/5/2016).
Mereka yang menggelar aksi 1.000 lilin berasal dari Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Lampung Timur, Ikatan Pemuda Muhammadiyah (IPM) Lampung Timur, PBH Peradi, Serikat Tani Indonesia (Sertani) Lampung, CB Club Lampung (CBCL), Paguyuban Keluarga dan Korban Talangsari (PK2TL) dan juga masyarakat Lampung Timur yang ikut prihatin dan peduli terhadap kasus Mistianah.
(Baca Juga: Mistianah Diperkosa dan Dibunuh, Kapolda Bertolak ke Lampung Timur)
Edi Arsadad, Koordinator Aliansi Masyarakat Tolak Kekerasan Seksual dan juga aktivis dan pegiat HAM Lampung Timur menjelaskan, kegiatan malam simpati dukungan dan doa 1.000 lilin untuk Mistianah itu bertujuan mendoakan korban sekaligus memberikan dukungan terhadap keluarga korban yang saat ini masih trauma atas kejadian tersebut.
"Tujuan kami mendoakan korban dan mendukung keluarganya karena keluarganya saat ini masih trauma. Hati orang tuanya terluka dan sedih atas kematian anaknya. Kita dukung supaya bisa semangat lagi," ujar Edi.
Selain itu, kegiatan tersebut digelar guna mendesak pihak kepolisian agar secepatnya mengungkap kasus pembunuhan terhadap Mistianah.
"Kegiatan ini juga bentuk desakan untuk kepolisian segera mengungkap kasus tersebut," katanya.
Edi menambahkan, akibat belum tertangkapnya pelaku oleh polisi, kini relatif banyak orang tua menjadi resah karena para pelaku masih bebas berkeliaran.
"Setelah kasus Yuyun di Bengkulu, disusul lagi kasus M, kini banyak masyarakat menjadi resah, jadi aksi ini bukan hanya ide kami dari aktivis, melainkan juga ide masyarakat karena merasa resah para pelaku belum tertangkap," tegasnya.
Sementara Ketua Umum Serikat Tani Indonesia (Sertani) Provinsi Lampung, Suryo Cahyono, mengatakan, kegiatan ini untuk menyadarkan negara agar segera hadir mengungkap kasus kekerasan seksual yang masih terus terjadi.
"Negara harus hadir untuk melindungi anak-anak generasi bangsa karena ini kejahatan seksual luar biasa dan ini menjadi tugas bersama," kata Suryo.
Menurut dia, kasus ini juga mengingatkan kepada negara bahwa saat ini masyarakat mulai resah, terutama orang tua atas, keselamatan anak-anaknya.
Mistianah menjadi korban tindak kekerasan seksual dan pembunuhan yang terjadi pada 17 April 2016 di Kecamatan Way Jepara, Lampung Timur. Hingga saat ini kasus pembunuhan terhadap siswi SD tersebut belum berhasil diungkap oleh pihak kepolisian.
Korban Mistianah, warga Desa Labuhan Ratu VII Kecamatan Labuhan Ratu, Lampung Timur ini dilaporkan hilang ke Kepolisian Sektor Labuhan Ratu pada hari Jumat 15 April lalu.
Korban diduga diculik oleh yang tidak dikenal, lalu pada Minggu 17 April, Mistianah ditemukan oleh warga telah meninggal dunia di perkebunan karet di Desa Sumber Marga Kecamatan Way Jepara.
(Fiddy Anggriawan )