PENDIDIKAN merupakan bekal untuk seseorang mencapai targetnya di dunia. Bahkan bila dipandang dari sisi nalar wajar, mereka yang putus sekolah kerap dipandang sebagai orang gagal.
Namun, hal itu tentu saja tidak selamanya benar. Sebab banyak pengusaha hingga pemimpin dunia yang ternyata masih tetap dapat sukses walaupun pernah keluar atau drop out (DO) dari sekolah.
Pada akhirnya nanti, keberhasilan seseorang tergantung kepada kemauan serta usaha dari dirinya sendiri. Hal itu terbukti dengan beberapa pemimpin dunia yang tetap dapat duduk di jabatan tertinggi di negaranya walaupun pernah DO dari sekolah. Pada artikel ini Okezone akan mengulas lima pemimpin dunia yang pernah putus sekolah.
1. John F Kennedy
Nama John F Kennedy atau yang akrab dipanggil JFK merupakan presiden ke-35 Amerika Serikat. Di Negeri Paman Sam, JFK dipandang sebagai pahlawan demokrasi. Namun, ada satu momen yang membuat nama JFK terkenal di dunia, yaitu ketika ia tewas secara tragis akibat ditembak.
Kemudian, JFK juga memiliki segudang pencapaian ketika ia menjabat sebagai Presiden AS contohnya adalah perannya dalam pembentukan pasukan perdamaian. Tapi percaya atau tidak, catatan pendidikan dari JFK sebenarnya tidak terlalu baik. Pasalnya, ia sempat DO ketika sedang mengenyam pendidikan di Princeton.
Keputusan DO tersebut ia ambil karena alasan kesehatannya yang buruk. Namun, ia kembali melanjutkan proses pendidikannya di Harvard dan menjadikan institusi pendidikan tersebut sebagai langkah awalnya untuk membuka jalur menuju kursi kepresidenan.
2. Joseph Stalin
Nama Stalin tidak pernah lepas dari statusnya di sejarah sebagai diktator dari Uni Soviet. Ia memimpin negara komunis tersebut dari 1922 hingga 1953.
Bahkan sejarawan memandang rezim dari Stalin di Uni Soviet sebagai salah satu struktur politik totaliter yang paling brutal dan menindas. Namun ketika masih berusia muda, Stalin dipandang sebagai seorang revolusioner dan orang yang memiliki pemikiran yang bebas.
Pada 1899, Stalin dikeluarkan dari sekolah seminari usai ia tidak mengikuti ujian akhir. Namun, hal tersebut sempat ditutupi. Pihak Soviet menceritakan, alasan Stalin dikeluarkan dari sekolah adalah karena ia dipaksa membaca buku literatur ilegal sedangkan pihak sekolah mengklaim Stalin dikeluarkan karena ia tidak membayar uang sekolah.
3. Adolf Hitler
Mungkin nama ini sudah tidak asing lagi bagi setiap orang. Adolf Hitler menjadi terkenal ketika ia memimpin partai Nazi dan mengobarkan perang di wilayah Eropa pada era Perang Dunia II.
Selain itu, Hitler juga terkenal akibat rasismenya yang tinggi di mana ia tidak segan membantai kaum Yahudi hingga warga minoritas lainnya. Namun, mungkin banyak yang tidak mengetahui sebelum menjadi sosok diktator, Hitler sebenarnya bercita-cita ingin jadi seniman.
Ia memutuskan berhenti dari sekolah dan terus mengejar cita-citanya bahkan sempat membuat serangkaian lukisan. Sayangnya, Hitler ditolak dua kali di Akademie der bildenden Kunste (Akademi Seni Rupa) di Wina.
Banyak yang memandang penolakan di akademi itu menjadi salah satu pemicu dari Hittler membenci masyarakat di tingkat kasta tertentu hingga menjadi inspirasinya dalam membuat buku ‘Mein Kampf’.
4. Ho Chi Minh
Ho Chi Minh hingga saat ini dipandang sebagai tokoh revolusioner di Vietnam. Ia menjabat sebagai Perdana Menteri Vietnam dari 1945 hingga 1955 dan menjadi Presiden Vietnam Utara hingga ia mengembuskan napas terakhir pada 1969.
Semasa hidupnya, Minh tanpa lelah terus menyuarakan kemerdekaan dari Vietnam bahkan ia juga mempromosikan kepentingan negaranya di panggung internasional. Majalah Time menyebut Minh sebagai salah satu orang berpengaruh di abad 20.
Namun, karier politiknya yang cemerlang tidak diikuti oleh catatan yang baik dalam pendidikan. Minh memutuskan untuk DO dari Akademi Nasional di Hue sebelum lulus. Sejarawan memperkirakan keputusan itu diambil Minh sebagai bentuk protes terhadap penindasan kolonialisasi Prancis di negaranya.
5. Paul Keating
Nama Paul Keating mungkin terdengar asing di kalangan warga Indonesia. Keating merupakan perdana menteri ke-24 Australia.
Warga Negeri Kanguru memandang Keating sebagai pria yang berasal dari keluarga pekerja yang dibesarkan oleh pengaruh Katolik Roma. Namun ketika ia berusia 15 tahun, Keating memutuskan untuk DO dari sekolahnya di De La Salle College Bankstown.
Bukannya memutuskan untuk meneruskan pendidikannya, Keating malah memilih bekerja sebagai seorang juru tulis dan membantu mengurus kelompok band rock. Namun, beranjak dewasa, Keating mulai terlibat dalam politik ketika ia bergabung dengan Partai Buruh serta serikat buruh.
Aktivitas politiknya ini akhirnya membantunya mencapai jabatan sebagai Perdana Menteri Australia. Sebagai seorang PM, Keating disebut berhasil menguatkan ikatan ekonomi serta budayanya dengan Asia.