Sayangnya, dari rombongan Abu Thalib yang diundang masuk, tak satu pun ada tanda-tanda ramalan itu di tiap-tiap wajah para musafir. Akan tetapi, Bahira kemudian menyadari bahwa masih ada satu anggota rombongan yang tidak ikut masuk.
Dialah Muhammad kecil yang saat itu kira-kira masih berusia 9-12 tahun, terduduk berteduh di bawah sebuah pohon. Muhammad kecil saat itu memang diminta berada di luar untuk menjaga unta-unta rombongan.
Saat Bahira melihatnya, dia terkesima karena cabang-cabang pohon tersebut merunduk melindungi Muhammad (SAW) dari teriknya matahari. Saat Bahira memanggil Muhammad untuk ikut masih, disebutkan segumpal awan tetap melindunginya dari terik matahari.
Di situlah Bahira meyakini bahwa Muhammad kecil itu kelak akan menjadi Rasul Allah SWT yang terakhir. Bahira mengenali setiap gerak-gerik Muhammad yang ternyata, sama dengan apa yang ada dalam sebuah kitab.
Saat bertanya jawab dengan Muhammad, Bahira juga terkesima karena semua jawabannya, sama dengan tanda-tanda seorang Nabi akhir zaman. Setelah itu, Bahira pun bertanya pada sang paman, Abu Thalib:
Bahira: “Apa hubungan Anda dengan anak ini?,”