MANILA – Ribuan aktivis sayap kiri dan lawan politik Presiden Filipina, Rodrigo Duterte berkumpul dan menggelar unjuk rasa menentang apa yang mereka lihat sebagai kebangkitan kediktatoran pada pemerintahan mantan Wali Kota Davao itu. Politisi, masyarakat adat, pemimpin gereja, dan kaum kiri berkumpul dalam demonstrasi dan misa untuk mengkritik Duterte dan menuduhnya menjalankan otoritarianisme yang mirip dengan mantan diktator Filipina, Ferdinand Marcos.
BACA JUGA: Waduh... Hadapi Demonstrasi Besar-besaran, Duterte Ancam Umumkan Darurat Militer
Demonstrasi tersebut digelar bertepatan dengan peringatan 45 tahun deklarasi status darurat militer di masa pemerintahan Marcos, yang berlangsung selama sembilan tahun sampai dia dilengserkan. Masa itu dikenang oleh banyak rakyat Filipina sebagai saat-saat kelam dengan pemerintahan yang brutal dan opresif.
Di antara para peserta demonstrasi terdapat Wakil Presiden Filipina, Leni Robredo yang menghadiri misa di Universitas Filipina yang menjadi tempat munculnya para aktivis politik Negeri Lumbung Padi. Robredo mengingatkan rakyat Filipina untuk tidak lengah dan dapat mengenali tanda-tanda kebangkitan sebuah tirani.
“Jika kita tidak mengingat masa lalu, kita bisa dikutuk untuk mengulanginya. Sayangnya, mereka yang tertipu tidak menyadari bahwa mereka berjalan di jalan kehancuran,” kata Robredo sebagaimana dikutip dari Reuters, Kamis (21/9/2017).