JAKARTA – Ketua DPP Partai Golkar, Meutya Hafid, menegaskan pihaknya tetap berpegangan dengan hasil pleno terkait nasib Setya Novanto yang kini ditahan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atas kasus dugaan korupsi e-KTP.
"Wacana, masukkan, diskursus mengenai apakah perlu Munaslub apapun hasil praperadilan itu saya rasa sebagai diskusi yang terus menerus kita lakukan di internal partai Golkar. Namun untuk saat ini yang diikuti masih satu, yaitu keputusan rapat pleno kemarin," katanya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (27/11/2017).
(Baca Juga: DPP Golkar: Dukungan Menggelar Munaslub Sudah Sangat Kuat)
Meutya mengatakan, saat ini pihaknya masih terus mengkaji kemungkinan-kemungkinan yang ada seraya mencermati kondisi menunggu hasil praperadilan. Namun, setelah praperadilan, barulah wacana mengenai diadakannya Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) ataupun mengembalikan posisi Novanto sebagai Ketum kembali terbuka.
"Bahwa kita menunggu praperadilan, tapi setelah praperadilan diskusi itu terbuka kembali apakah akan ada Munaslub ataukah ada pengembalian posisi jika Pak Novanto menang, itu masih terus menjadi diskusi," sambung Meutya.
(Baca Juga: Bila Diusulkan 2/3 DPD I, Nurdin Halid Sebut Munaslub Golkar Bisa Digelar)
Wakil Ketua Komisi I DPR itu menuturkan, partainya saat ini sangat terbuka dengan berbagai diskursus. "Semua orang boleh berbicara dan semua orang masih mengkaji," terangnya.
"Kami enggak mau ada perpecahan lagi sehingga semua langkah terkait apa yang mau dilakukan DPP harus dilakukan secara hati-hati, tentu dengan mempertimbangkan masukkan, termasuk juga dari DPD-DPD tadi," pungkas Meutya.
(Erha Aprili Ramadhoni)