NANJING - Rakyat China hari ini memperingati 80 tahun pembantaian Nanking oleh tentara Jepang. Dalam tragedi itu, 300 ribu warga sipil dan tentara dibunuh, diperkosa, disiksa, dibakar, dijarah selama enam minggu setelah militer Jepang memasuki Nanjing pada 13 Desember 1937.
Meski sudah berlalu, peringatan ini tetap terasa menakutkan bagi kedua negara tetangga karena perbedaan pendapat tentang peristiwa tersebut. Mayoritas penduduk China menduga Jepang tidak mau menebus agresi masa perangnya itu. Sementara Jepang, secara resmi menyebut kejadian itu memang benar terjadi, tapi soal jumlah korban mereka masih belum mau mengakui.
Pemimpin tertinggi China akan memimpin upacara pemakaman di ibu kota Provinsi Jiangsu itu. Namun Beijing belum mengkonfirmasi apakah Presiden Xi Jinping akan hadir. Xi sebelumnya menandai hari peringatan nasional pertama dengan sebuah pidato yang mengatakan bahwa pembantaian 300 ribu korban itu tidak dapat dipungkiri.
Lian Yunxiang, seorang ahli hubungan internasional dari Peking University, menyebutkan Beijing hanya ingin menolak lupa soal kekejaman Jepang. Hingga kini, hal itu pun berpengaruh terhadap perselisihan soal wilayah maritim.
"Ada konflik yang kembali dipanaskan saat ini antara dua negara. Semua sejarah adalah kontemporer. Jepang berpikir isu itu sudah berakhir, tapi China tetap menjaganya hingga terus semakin kuat," kata Yunxiang.
Peringatan itu akan berpusat di musium di Nanjing. Namun mereka berharap tempat lain juga memperingatinya.
BACA JUGA: Puluhan Pejabat Jepang Kunjungi Kuil Kontroversial
Beijing saat ini memang jarang membahas hari tersebut, namun minggu ini, sebuah kelompok China mengulangi permintaan tahunannya untuk Jepang soal tanggung jawab ke kerabat korban.
Abe, cucu menteri Jepang saat masa perang, bahkan dituduh mencoba mengesampingkan sejarah. Dua tahun lalu ia menyampaikan penyesalan mendalam terkait kejahatan tentara Jepang saat itu. Namun ia mengklaim tentara Jepang saat ini tidak perlu meminta maaf dan menanggapi kritik China, Korea Selatan, dan negara lainnya.
Politisi Jepang juga berulang kali membuat marah negara-negara tetangga itu dengan mengunjungi Kuil Yasukuni di Tokyo. Kuil itu merupakan tempat tentara Jepang yang dihukum karena melakukan kejahatan perang.