AMMAN - Wakil Presiden (Wapres) Amerika Serikat Mike Pence bertemu dengan Raja Abdullah II dari Yordania pada Minggu 21 Januari. Dalam pertemuan tersebut, mereka berdua menyatakan bahwa "setuju untuk tidak setuju" atas pengakuan Amerika Serikat yang menyatakan Yerusalem sebagai ibu kota Israel.
Pertemuan yang digelar di Amman, Yordania, pada hari kedua kunjungan Pence ke Timur Tengah, terjadi saat ketegangan meningkat antara dua sekutu mengenai keputusan Presiden Trump terkait Yerusalem dan keputusannya pada minggu lalu untuk memotong bantuan ke Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk pengungsi Palestina (UNRWA) sebesar Rp1,6 triliun.
BACA JUGA: AS Klaim Yerusalem Ibu Kota Israel, Dubes Yordania: Kota Suci Ini Milik Semua
Sebelum bertemu Pence di Istana Al Husseiniya, Raja Abdullah menegaskan kembali dukungannya untuk Yerusalem Timur sebagai ibu kota negara Palestina yang merdeka dan nantinya tinggal berdampingan dengan Israel yang aman dan diakui. Yordania juga merupakan rumah bagi lebih dari dua juta pengungsi Palestina yang terkena dampak pemotongan bantuan Amerika Serikat ke UNRWA. Pence mengatakan bahwa kedua pemimpin tersebut memiliki "diskusi yang sangat terbuka"
"Dengar, dalam sebuah pertemanan kadang-kadang memiliki ketidaksepakatan dan kami sepakat untuk tidak menyetujui keputusan Amerika Serikat untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Tapi yang kami sepakati adalah perlunya semua pihak kembali ke meja (untuk berunding)," ungkap Wapres Pence, dilansir dari New York Times, Senin (22/1/2018).