BANDUNG - Suasana duka, terlihat di rumah Andika Pratama Putra, pemandu pendakian Puncak Gunung Carstensz, Papua, yang meninggal pada Sabtu 3 November 2018, di Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua.
Rumah Andika yang beralamat di Jalan Padang Golf, Arcamanik, Kota Bandung, nampak didatangi sejumlah rekan sesama pendaki gunung dan kerabat keluarga untuk menyampaikan rasa duka mereka. Di halaman rumahnya pun, nampak banyak sekali karangan-karangan bunga dari para koleganya.
(Baca Juga: Seorang Pendaki Puncak Cartenz Meninggal Akibat Tertimpa Batu)
Jenazah Andika telah dimakamkan pada Senin (5/11/2018), sekira pukul 07.00 WIB, di pemakaman umum yang tak jauh dari kediamannya.
"Kalau (jenazah) kaka, sampai di rumah jam 12 malam, kita makamkan tadi jam tujuh pagi," ujar Aulia Anindita, adik Andika, saat ditemui wartawan di rumah duka.
Dita begitu sapaannya, bercerita sedikit soal keseharian kakaknya tersebut. Menurut Dita, kakaknya memang hobi mendaki gunung. Hobi tersebut, kata dia, digeluti sang kakak sejak masih duduk di bangku SMA. Atas hobinya itu, Andika pun bekerja sebagai pemandu gunung (Guide Mountain).
"Kalau ke Carstensz dia sudah tiga sampai empat kali, pokonnya lebih dari dua kali. Untuk lainnya, dia pernah ke Kilimanjaro, Elbruz. Kalau di Indonesia sendiri sering juga ke Rinjani gitu dan lain-lainnya," katanya.
Dia menambahkan, dari beberapa gunung yang pernah didaki sang kakak, paling favorit merupakan Cartenz. Pasalnya, Puncak Carstensz, memiliki cerita sendiri bagi Andika.
"Carstensz yang itu jadi favoritnya. Beberapa kali dia pernah cerita, kalau dia jatuh cinta dengan Puncak Carstensz," tuturnya.
Gunung yang menjadi favoritnya tersebut, akhirnya menjadi tempat Andika menghembuskan nafas terakhirnya. Andika, terkena reruntuhan batu saat tengah memandu beberapa pendaki yang akan mendaki Puncak Carstensz, pada Sabtu 3 November 2018.
(Baca Juga: Pendaki Puncak Cartensz yang Meninggal Dunia Dikenal Humoris)
Salah seorang pendaki Seven Summit wanita asal Bandung yang pernah dipandu oleh Andika, yakni Fransiska Dimitri mengatakan, almarhum merupakan sosok penghibur dan teman yang baik untuk mendaki gunung.
"Dia pernah memandu kami saat ke Kilimanjaro. Dia orangnnya tenang, dia yang nyambut kami di puncak saat itu. Selama pendakian dia kerap menghibur kami. Itu yang bikin perjalanan jadi kerasa enggak capek," kata Fransiska saat ditemui di tempat dan waktu yang sama.
(Fiddy Anggriawan )