Perayaan Tahun Baru 2019, Antara Hura-Hura dan Doa Bersama

Herman Amiruddin, Jurnalis
Sabtu 29 Desember 2018 09:02 WIB
Ilustrasi
Share :

Hedonisme di Tahun Baru Tak Berefek Apa-Apa

Pengamat Budaya di Makassar menilai tahun baru sejatinya dimaknai sebagai moment muhasabah diri, refleksi atas segala hal yang telah kita lalui, alami, capai pada 12 bulan sebelumnya.

Pengamat Budaya Rahmawati Haruna mengatakan setiap individu memiliki harapan, ada yang telah dicapai namun ada juga yang tertunda. Ada juga sesuatu yang tertimpa sedih, ada yang diberi kebahagiaan. Hidup ini terus berputar, apa yang telah diraih dipertahankan, yang belum diraih diperjuangkan.

"Jika ada galau segera move on. Nah isilah tahun baru dengan harapan-harapan baru. Pikiran-pikiran positif yang hebat, dan upaya-upaya baru. Jika kita memiliki cita-cita yang tertunda sebelumnya, jangan ubah cita-cita itu, tapi ubah cara meraihnya di tahun yang baru ini," kata Dosen Ilmu Komunikasi UIN Alauddin Makassar ini kepada Okezone

Oleh karena tahun baru adalah moment meraih cita-cita dan meningkatkan kualitas diri, perayaan tahun baru sebaiknya tidak perlu berlebihan.

Misalnya kata dia, pesta kembang api, pesta memutar musik dengan volume keras dan lain-lain, tidak memberi manfaat apa-apa.

"Suka cita sesaat, setelah itu lenyap seiring berhentinya letusan kembang api, redupnya suara musik. Aksi kejahatan juga marak setelah perayaan, contohnya mahasiswa saya, setelah merayakan tahun baru di salah satu pusat keramaian di Makassar, ketika hendak pulang ke rumah, dia menjadi korban begal, barang-barang berharganya kemudian dirampas," ungkapnya.

Menurutnya, merayakan tahun baru bukanlah hal yang dilarang. Namun hendaknya dirayakan dengan cara yang memberi manfaat besar pada diri sendiri. Paling sederhana namun berkesan bersuka cita bersama keluarga makan-makan di rumah sambil nonton.

Misalnya malam pergantian tahun diganti dengan zikir bersama. "Namun, beberapa agenda pergantian malam tahun baru yang saya ketahui alhamdulillah tidak lagi dalam bentuk hura-hura. Bahkan beberapa pondok pesantren di Makaasar memberi libur yang singkat pada santrinya untuk menghindarkan dari perayaan yang sifatnya hura-hura. Malam pergantian tahun diganti dengan zikir bersama di pondok," ungkapnya

Bahkan di Provinsi Sulawesi Barat kata Rahmawati pemerintah di sana telah meniadakan aksi kembang api. Kapolda Sulbar langsung memimpin razia penjualan kembang api. Belum tahu dengan kita di Makassar.

"Apalagi sekarang ini, bangsa kita tengah berduka dengan berbagai bencana alam, saudara-saudara kita yang terkena bencana, membutuhkan lebih banyak doa dan donasi. Tidaklah elok untuk merayakan pergantian malam tahun baru dengan hura-hura ditengah kondisi bangsa kita yang sedang berduka," pungkasnya.

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya