Hingga akhirnya, sebagian warga Banjar Muntigunung ada memilih profesi sebagai pengemis dan gelandangan. Untuk menghapus imej penghasil pengemis dan gelandangan terbesar di Bali, Pemkab Karangasem pun terus berupaya memberikan pelatihan. Termasuk menyediakan tempat tinggal.
Upaya itu pun berhasil. Kemensos menjadikan Banjar Muntigunung sebagai daerah keenam setelah Pasuruan, Malang, Yogya, Padang Jeneponto, dengan menggelontorkan dana Rp2,3 miliar.
Bupati Karangasem, Bali Gusti Ayu Mas Sumatri berharap, program Kemensos "Desaku Menanti" dapat memutus mata rantai kemiskinan di Kabupaten Karangasem.
"Melalui program dari Kementerian Sosial 'Desaku Menanti' bisa mampu memutus mata rantai kemiskinan, seperti yang terjadi di Banjar Muntigunung, Desa Tianyar Barat ini," ujar Bupati Mas Sumatri.
Menurut Mas Sumatri, saat ini jumlah gelandangan dan pengemis (gepeng) turun sebanyak 285 jiwa pada 2015 sampai 2016. Dan sebanyak 100 orang mendapat akses permodalan, sisanya 185 orang belum mendapatkan akses permodalan.
"Total nilai bantuan Rp500 juta. Tahun 2017 total Rp250 juta untuk 50 jiwa. Tahun 2018 kami mendapat program "Desaku Menanti" bagi 50 KK mantan gepeng. Total nilai bantuan Rp2,3 miliar lebih. Untuk lahan siap bangun kami siapkan satu hektare untuk pembangunan 50 unit rumah," terangnya.
Sementara itu, Direktur Rehabilitasi Sosial, Tuna Sosial dan Korban Perdagangan Orang Kemensos, Sonny Manalu mengatakan, ada 50 rumah dibangun untuk 50 kepala keluarga eks gelandangan dan pengemis dalam satu kompleks prumahan dengan luas mencapai satu hektare.
Sonny mengatakan, pogram ini upaya pemerintah mencabut kemiskinan dari akarnya. Ada lima daerah yang telah dibangun di antaranya di daerah Pasuruan, Malang, Yogyakarta, Padang dan Banjar Muntigunung, Kabupaten Karangasem.
(Arief Setyadi )