JAM DINDING di sebuah sekolah dasar yang berlokasi di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat menunjukkan pukul 14.30 WIB. Waktu itu menunjukkan tanda berakhirnya kegiatan belajar mengajar di sana. Tampak siswa-siswi bergiliran keluar kelas dengan terlebih dahulu memakai sepatu yang diletakkan berjejer rapi di atas rak tepat depan ruang kelas.
Raut wajah polos terpancar dari para anak di bawah umur itu. Mereka menghampiri orangtuanya masing-masing yang sudaah menunggu untuk menjemput sang buah hati. Sedangkan bagi anak yang tidak dijemput, pulang menggunakan ojek langganannya.
Dari ratusan anak yang lalu lalang di sana, terlihat Faiz (12) sedang berjalan seorang diri. Dia terlihat tidak memakai sepatu seperti anak-anak lainnya yang hendak meninggalkan sekolah. Faiz justru memasuki sebuah ruangan yang ternyata ruangan kepala sekolah.
Rupanya, bocah kelas 6 SD itu mendatangi ibunya yang merupakan kepala sekolah SD yang sudah berdiri sejak tahun 2007 silam. Ia mengulurkan tangan kepada sang ibunda untuk cium tangan. Lilik Kusmiati -ibunda Faiz- menghentikan sejenak pekerjaannya, meski tumpukan kertas masih terletak di atas meja.
Ibu dan anak itu lantas terlibat obrolan sangat akrab. Faiz menceritakan seluruh aktivitas yang telah ia jalani seharian di kelas kepada sang ibu. Sesekali Lilik menanggapi apa yang diceritakan oleh anak sulungnya tersebut.
Sekitar 15 menit berselang, perbincangan keduanya pun selesai. Lilik meminta anaknya untuk menunggunya sejenak karena harus merampungkan pekerjaan sebelum pulang ke rumah pada pukul 16.00 WIB.
Wanita berusia 37 tahun itu tampak memberikan tablet berukuran layar 8 inchi kepada Faiz agar dia tidak bosan menunggu ibunya memeriksa dokumen keuangan sekolah. Tanpa pikir panjang, sulung dari tiga bersaudara itu langsung duduk di sofa yang letaknya berhadapan dengan meja kerja ibunya.
Ia nampak begitu piawai memijat layar gadget itu. Faiz mencari-cari video Upin dan Ipin di sebuah media sosial (medsos) bernama YouTube. Film kartun asal Malaysia itu memang selalu dicari olehnya di kala waktu senggang. Ia terlihat sibuk mengusap-usap kaca gawai (gadget) dengan wajah tertunduk untuk memilih film yang belum ditonton.
Faiz menceritakan alasan dirinya menghabiskan waktu dengan menonton film kartun di gadget. Dengan berselancar di dunia maya, ia merasa waktu berlalu begitu cepat dan dirasa tidak membosankan.
"Karena asyik. Enggak ada kegiatan, jadinya main gadget," ujar Faiz saat dihampiri Okezone beberapa waktu lalu.
Ketika menggunakan gadget, Faiz selalu mengingat pesan ibunya, yakni matanya tidak boleh terlalu dekat dengan layar dari perangkat elektronik tersebut. Sebab, hal itu akan membuat kedua bola matanya akan cepat mengalami penurunan fungsi akibat terpapar sinar radiasi dari gawai.
"Sedikit takut (kalau matanya rusak karena radiasi-red)," gumamnya.
Selain untuk menonton film, Faiz biasanya menghabiskan waktu di dunia maya untuk membaca-baca tulisan berbau sejarah yang memang banyak tersaji di internet. Setelah itu, ia menceritakan bacaan itu kepada ibunya.
"Baca-baca soal sejarah apa aja di internet, terus jelasin ke bunda deh," katanya polos.
Berbeda dengan Faiz, Fathir Hadyan Zachary (8) mengaku menggunakan gadget untuk bermain game di telefon genggam milik ayahnya. Namun, orangtuanya tak memberi kebebasan dirinya untuk setiap hari bermain handphone. Ia hanya diizinkan saat akhir pekan, ketika selesai mengaji.
"Cuma boleh main pas Sabtu-Minggu. Itupun setelah ngaji, kalau enggak ngaji, enggak boleh," kisah anak yang kini duduk di kelas 3 SD tersebut.
Bocah laki-laki yang karib disapa Zacky itu mengaku senang bermain game balap mobil. Menurut Zacky, permainan balap mobil sangat seru dan melatih fokus otak agar kendaraan yang dikendarai tidak menabrak mobil lain, lalu bisa keluar sebagai pemenang.
Meski begitu, lanjut dia, anak semata wayang dari pasangan suami istri Yayuk dan Hedi itu mengaku tidak ketagihan dalam bermain gadget. Karena bapak dan ibunya selalu mengajak dirinya untuk berkegiatan di luar rumah.
"Main sepeda, mainin kucing, main lari-larian gitu," kata Zacky.
Dua bocah yang masih mengenyam pendidikan di sekolah dasar itu terbilang masih dalam tahap wajar dalam menggunakan sebuah gadget. Bila mereka tidak dibatasi, maka bisa berdampak buruk. Salah satunya Anes (15), yang mengaku sudah kecanduan bermain game online di komputer. Ia sama sekali tidak tertarik bermain kelereng, gambaran maupun permainan tradisional lainnya.
Saat ditemui Okezone di sebuah warnet yang berlokasi di Jakarta Selatan, Anes mengaku telah bermain game Dota sejak duduk di bangku sekolah dasar kelas 4. Awal ketertarikannya bermain game tersebut berawal saat kakaknya mengajak bermain ke warnet.
Saat itu, kedua orangtuanya juga tidak melarang aktivitasnya bermain di warnet. Mereka tidak mengira kalau dirinya sampai terjangkit penyakit malas dan enggan berinteraksi dengan lingkungan sekitar, kecuali sesama pecinta game online.
"Abang saya ngajak main ke warnet. Diajarin, sampai keterusan sampai sekarang," kata Anes.
Anes mengatakan, dirinya rela menginap di warnet selama tiga hari untuk menaikkan level dari karakter yang ia mainkan di dalam permainannya. Kemenangan bisa diraih bila timnya dapat menumbangkan kelompok lain.
Tak hanya itu, akibat keranjingan bermain game online di warnet, Anes mengaku pernah bolos sekolah hingga sepekan lamanya. Alhasil, orangtuanya dipanggil ke sekolah lantaran ia tak masuk selama tujuh hari dan tanpa keterangan.
"Kalau udah di warnet, waktunya tuh enggak berasa. Enggak sadar udah tiga hari aja. Dulu malah pernah sampai bolos sekolah," ucap dia.
Beberapa waktu lalu, lanjut Anes, orangtuanya membelikan gadget dan komputer dengan maksud agar dirinya lebih betah bermain di rumah. Dirinya tak memungkiri sejak dibekali gadget, wajahnya seringkali menunduk ke layar ponsel saking asyiknya bermain game online hingga lupa waktu.
Namun, ia merasa 'atmosfer' bermain game seorang diri kurang menantang. Sehingga dirinya memutuskan untuk kembali menyambangi warnet.
"Kalau di warnet kan bareng teman-teman. Jadi, lebih semangat aja. Tapi saya juga udah janji sama orangtua enggak bakal cabut sekolah lagi," ujarnya.
(Rizka Diputra)