MEMASUKI musim penghujan, penularan penyakit demam berdarah dengue (DBD) jumlahnya cukup tinggi. Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta mencatat pada Januari 2019, sebanyak 813 masyarakat Ibu Kota harus terbaring di rumah sakit lantaran terjangkit DBD.
Bila dibanding bulan yang sama pada 2018 lalu, maka jumlah pasien DBD di 2019 mengalami lonjakan yang cukup signifikan. Pada tahun lalu, angka penderita DBD tercatat hanya 198 orang. Bila dikalkulasi, maka terhitung ada kenaikan sebanyak empat kali lipat di tahun ini.
Curah hujan tinggi pada awal 2019 mengakibatkan kasus DBD di Ibu Kota meningkat. Lalu, masih banyaknya masyarakat yang kurang peka terhadap lingkungan sekitar membuat nyamuk aedes aegypti bebas berkembang biak di sana.
"Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah kondisi iklim. Iklim berperan dalam memberikan lingkungan yang kondusif untuk nyamuk berkembang," kata Kepala Seksi Penyakit Menular, Tular Vektor dan Zoonotik Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes DKI Jakarta, Inda Mutiara kepada Okezone, Jumat, 1 Februari 2019 kemarin.
Dari enam wilayah di Ibu Kota, lanjut Inda, Jakarta Selatan menjadi wilayah yang warganya paling banyak menderita DBD. Ada sekira 277 orang yang harus berhadapan dengan penyakit mematikan tersebut. Sedangkan wilayah yang terbebas dari DBD, yakni Kepulauan Seribu. Hal tersebut karena nyamuk aedes aegypti hanya suka hidup di tempat yang lembab.