Daerah Setu dan Serpong Tangsel Paling Rawan Terjangkit DBD

Hambali, Jurnalis
Sabtu 02 Februari 2019 13:29 WIB
Foto Ilustrasi Okezone
Share :

TANGSEL - Setidaknya sudah ada ratusan pasien yang mendapat penanganan medis akibat gigitan nyamuk Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Tangerang Selatan (Tangsel). Setu dan Serpong adalah wilayah yang paling rawan diantara 7 Kecamatan yang ada.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Tangsel, Dokter Tulus Muladiono, mengatakan, hingga saat ini Setu dan Serpong adalah wilayah terbanyak yang warganya terkena DBD.

"Sampai saat ini Setu dan Serpong terbanyak," katanya di kantor Dinkes Tangsel, Jumat (1/2/2019).

Data terakhir menyebutkan, sekira 157 pasien yang sempat mendapat penanganan di Puskesmas, dan RSU Kota Tangsel. Sebagian besar diantaranya telah diperbolehkan pulang, sedangkan saat ini masih terdapat sekira 22 pasien yang masih menjalani perawatan di RSU.

Jumlah korban meninggal yang berhasil diketahui telah mencapai 2 orang. Yakni seorang pasien asal Situ Gintung, Ciputat Timur, serta seorang warga Pondok Ranji, Ciputat Timur. Sedangkan kabar adanya warga Pamulang yang meninggal akibat DBD beberapa waktu lalu, dibantah Kelurahan setempat dan dinyatakan pasien meninggal lantaran sakit lambung.

Dilanjutkan Dokter Tulus, penanganan yang dilakukan hingga saat ini adalah mengintensifkan pemeriksaan jentik-jentik nyamuk di rumah warga. Baik melalui peran Jumantik ataupun penghuni rumah. Jika ditemukan, maka hal itu harus dilaporkan ke Dinkes Tangsel guna dilakukan observasi.

"Nyamuk DBD itu berbeda dengan nyamuk spesies lainnya. Dia bertelur di area dalam rumah, misalnya di belakang kulkas, pot tanaman, atau tempat lembab lainnya. Tempat-tempat itu harus dibersihkan, atau ditaburi bubuk abate. Jika dilingkungan ada yang terkena, segera laporkan ke kami," jelas Tulus.

 

Dipaparkan Dokter Tulus, fogging sendiri sampai saat ini sudah dilakukan di 80 lokasi yang tersebar di berbagai wilayah Tangsel. Namun disebutkannya, fogging hanyalah tindakan terakhir yang dilakukan setelah tahap pencegahan sebelumnya dilakukan.

Dia memaparkan, pemberian fogging tak berdampak positif sepenuhnya. Karena ada pula potensi negatif yang membahayakan penghuni lingkungan. Misalnya jika zat-zat hasil pembakaran bahan fogging terhirup, menempel dikulit, maka bisa terserap tubuh dan menyebabkan penyakit hati atau liver.

"Fogging itu ada ketentuannya, bahannya apa, campurannya bagaimana, agar bisa efektif. Kalau dari Dinkes, pasti kita ikuti panduannya betul. Karena bisa juga berdampak negatif, itu harus kita perhatikan betul. Tapi kalau perkembangan nyamuk dewasa DBD sudah pada tingkat membahayakan, maka solusinya tetap harus diberi fogging," paparnya.

Dikatakannya lagi, jumlah pasien DBD periode awal tahun ini mengalami peningkatan dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu. Meski begitu, ungkap Tulus, hal demikian tidak menjadikannya secara otomatis masuk kategori Kejadian Luar Biasa (KLB).

"Ya memang ada peningkatan dibanding tahun lalu, tapi ini bisa kita atasi, karena petugas Jumantik, Puskesmas sudah diarahkan agar meningkatkan pemeriksaan ke tiap-tiap rumah, mengecek lingkungan di bawahnya," lanjutnya.

 

Sementara, pihak RSU sendiri masih intensif merawat 22 pasien DBD di lantai 3 Rumah Sakit. Awalnya jumlah pasien yang dirawat hingga pekan ketiga bulan Januari 2019 tinggal 16 orang, 3 diantaranya diperbolehkan pulang. Namun akhir Januari, masuk pasien baru DBD berjumlah 9 orang, sehingga total yang dirawat mencapai 22 pasien.

"Yang 16 pasien itu, 3 diantaranya sudah pulang. Tapi kemudian masuk 9 pasien baru. Sehingga saat ini yang masih dirawat berjumlah 22 pasien," ucap Dokter Imbar Umar Gazali, Kepala Bidang Pelayanan Medis (Yanmed) RSU Tangsel kepada Okezone.

Salah satu pasien DBD yang meninggal dunia di RSU Kota tangsel diketahui bernama Andre Fernanda Sugara (24). Almarhum tinggal bersama orang tuanya di Jalan Onta Raya, RT04 RW06 Nomor 16, Pondok Ranji, Ciputat Timur. Sebelum dipindahkan ke RSU karena keterbatasan alat, Andre sempat mendapat penanganan di Puskesmas Pondok Ranji.

Diceritakan oleh sang ibu, Nuryati (42), putra tertuanya itu pertama kali mengeluh demam dan nyeri pada beberapa bagian tubuh. Padahal sebelumnya, Andre beraktifitas normal dan padat. Sempat bekerja sebagai driver ojek daring, hingga sepekan terakhir baru bekerja sebagai salah satu pegawai restoran di kawasan Bintaro.

"Waktu pulang kerja, dia ngeluh badannya pada sakit, nyeri, mual sama pening juga. Terus diperiksa ke Puskesmas, sempat dirawat semalam disana. Waktu dicek trombositnya menurun, sudah 65 ribu," kata Nuryati.

 

Karena trombositnya terus menurun, sambung Nuryati, selanjutnya perawatan Andre dipindahkan ke ruang IGD RSU Kota Tangsel. Disana, trombosit Andre kian berangsur turun menjadi 4.000, lalu turun lagi 2.000, kemudian 1.800, hingga sempat drop dengan trombosit hanya 1.100.

"Dia sempat drop, trombositnya cuma 1100, tapi memang naik lagi jadi 1.800," tambahnya.

Selama berhari-hari menjalani perawatan intensif di RSU, tak memberi pemulihan atas kondisi trombosit dan kesehatan Andre. Dia pun harus menyerah, sengatan virus nyamuk DBD ganas membuat anak pertama dari 4 bersaudara itu berpulang untuk selamanya pada Jumat 25 Januari 2019, sekira pukul 13.45 WIB.

Disampaikan Nuryati, sebelumnya pihak RSU menduga ada penyakit Flek yang juga memengaruhi kesehatan Andre. Atas saran dokter, lantas dilakukan rontgen pada bagian paru.

Begitu hasil rontgen keluar, Andre kemudian dipindah ke kamar perawatan lainnya. Meski begitu, dikatakan Nuryati, penyakit demam berdarah lah yang menyebabkan kesehatan putranya itu menurun drastis.

"Ya memang sempat dirontgen juga parunya, terus dipindahin ruangannya karena positif kena flek juga. Tapi yang jadi penyebab dia sakit sampai trombositnya turun itu ya karena DBD, karena dari Puskes juga memang sudah diagnosanya begitu," ungkapnya.

(Awaludin)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya