DINAS Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) DKI Jakarta memiliki cara tersendiri untuk melestarikan kesenian palang pintu di kalangan masyarakat Ibu Kota. Salah satu cara yang dilakukan adalah menggelar kegiatan festival palang pintu yang diselenggarakan sebanyak setahun sekali.
"Ya kita punya kegiatan festival setahun sekali yang dilaksanakan di Kemang, Jakarta Selatan," kata Kepala Bidang Informasi dan Pengembangan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta, Alberto Ali kepada Okezone, Jumat, 15 Februari 2019.
Selain itu, kata dia, pihaknya juga menginstruksikan kepada seluruh jajaran instansi Pemprov DKI untuk selalu melakukan ritual palang pintu dalam setiap acara yang digelar. Dimulai dari pemerintah untuk menularkan kebiasaan itu kepada masyarakat.
"Ada kegiatan nasional atau kelurahan kita selalu hadirkan palang pintu. Jadi posisi kita palang pintu adalah tradisi yang harus dilestarikan," ujarnya.
Dia mencontohkan, seperti kegiatan gubernur kala berkunjung ke suatu kampung maka tokoh masyarakat di sana akan menyambutnya dengan palang pintu. Tradisi itu pun pernah diterapkan ketika Balai Kota DKI menerima kedatangan obor Asian Paragames 2018 beberapa waktu lalu.
Alberto menuturkan, agar budaya itu tak tegerus oleh pesatnya era perkembangan teknologi yang kian pesat, pihaknya pun sering berkomunikasi dengan sanggar dan komunitas-komunitas Betawi untuk membantu Pemprov DKI dalam menjaga kelestarian budaya itu.
"Kita sering melakukan komunikasi kepada sanggar-sanggar dan komunitas budaya Betawi," tuturnya.
Menurut Ali, animo masyarakat dalam melakukan tradisi palang pintu masih cukup tinggi. Apabila ada beberapa warga Betawi yang mulai meninggalkan kesenian palang pintu ketika melangsungkan akad nikah, bukan berarti budaya itu mulai punah di kawasan Ibu Kota.
"Masalah massyarakat Betawi saat pernikahan tidak melaksanakan prosesi itu, bukan berati ditinggalkan. Itu modifikasi mereka. Dari Disparbud tentu itu adalah budaya yang harus dilestarikan," kata dia.
Ia mengimbau kepada seluruh generasi milenial agar tak melupakan budaya asli Betawi. Sebab, alangkah indahnya jika tradisi palang pintu itu bisa dikenal ke dunia internasional. Misalnya, berbalas pantun di palang pintu bisa diterapkan dengan menggunakan Bahasa Inggris.
"Ya, untuk generasi milenial kita harapkan jangan ditinggalin tradisi palang pintunya. Kita ikut terlibat dalam pelestariannya dan kita harapkan generasi milenial mengembangkan nilai-nilai tradisi yang ada di Betawi," ujarnya.
(Rizka Diputra)