Tidak berhenti sampai di sana, secara perlahan kekuasaan Fatahillah yang kala itu usai mengusir Portugis mulai meredup dan perlahan dikuasai Banten yang saat itu menempatkan seorang Adipati bernama Pangeran Wijayakrama. Dari sana pula Ia mulai membangun komunikasi dengan Belanda.
"Kisah hidupnya (Fatahillah) belakangan misterius bagaimana masa-masa terakhirnya hilang begitu saja karena sejarah dengan cepat mengarah ke Pangeran Wijayakrama. Kemudian mereka Belanda datang itu baik-baik datang sama dengan Portugis ingin membuka loji, semacam pergudangan dan perkantoran tapu ternyata mereka juga menghimpun kekuatan untuk melakukan perlawanan," ujar dia.
Diakui Johan bahwa dalam beberapa catatan seperti ditulis Wuka Chandra Sasmita, Wijayakrama ini menguasai Banten namun dalam kepemimpinananya tidak melibatkan Banten. Selain kepada Belanda, Wijayakrama juga memberikan izin kepada orang Inggris untuk mendirikan pertahanan dengan catatan membantu Wijaya apabila mendapat perlawanan dari Belanda. Ia adalah Jan Pieterszoon (JP) Coen yang merupakan Gubernur Jenderal VOC kala itu dan pada 1619 dikenal sebagai pendiri Batavia pengganti Jayakarta pasca-dimenangkan oleh Fatahillah.
"Dalam perjalanannya terjadi persengketaan akhirnya perang. Itu Jan Pieterzoon Coen yang kemudian dikenal sebagai pendiri Kota Batavia mereka memimpin perang VOC melawan Pangeran Wijayakrama dan Inggris pada 1619 pendirian Batavia artinya peperangan itu bisa dimulai dari tahun sebelum 1619," ucap Johan.
Sejak saat itu pula nama Pelabuhan Sunda Kelapa berubah menjadi Jayakarta di tangan Fatahillah dan menjadi Batavia di masa VOC Belanda di bawah kepemimpinan Jan Pieterzoon Coen yang kemudian kembali beralih menjadi Pelabuhan Sunda Kelapa oleh Pemerintah Republik Indonesia hingga saat ini.
(Rizka Diputra)