Heterogenitas Ampenan
Kawasan di Ampenan terbagi oleh Sungai Jangkok yang disebut Kali Jangkok. Kawasan di sebelah utara Kali Jangkok semula mempunyai simpul utama atau inti kegiatan, yaitu pelabuhan Ampenan dengan jalan raya utama Jalan Pabean yang membentuk loop bersama dengan Jalan Niaga II – I.
Secara fungsional, kawasan pelabuhan dikalungi kawasan pergudangan dan jalan raya penghubung berkembang menjadi jalur perdagangan utama. Permukiman kawasan utara Kali Jangkok merupakan mozaik yang tersusun atas, secara berturut-turut searah jarum jam dari kuadran utara-barat, Kampung Bugis, Kampung Arab, Pecinan dan Kampung Melayu. Suku Bugis dan Banjar adalah perantau yang telah menghuni kira-kira pada abad XVIII.
Kawasan di sebelah selatan Kali Jangkok menampilkan dua lapis kota yang berbeda zaman, yaitu lapis permukiman yang lebih lama di pesisir dan lapis kota modern yang sebagian dibangun di atas kawasan benteng yang pernah ada di sebelah barat daya jalan raya.
Lapis tua merupakan Kampung Banjar dan lapis kota modern yang terdiri atas kompleks AL yang membentuk entitas sendiri dan di seberangnya bagian lebih baru yang dibangun pada awal abad XX. Pada bagian kota modern terlihat pengaruh oleh konsep kota taman. Taman berbentuk segi tiga dikembangkan sebagai pengikat kedua 'compound'.
Tipologi bangunan yang ada di Ampenan adalah berupa Ruko (deret)– berlantai 1, 2 atau 3 dan umumnya setiap kumpulan terdiri atas 3 sampai dengan 6 satuan. Bangunan Ruko tersebut berada di sepanjang Jalan Jos Sudarso, Jalan Niaga I dan II, Jalan Koperasi, Jalan Saleh Sungkar dan Jalan Pabean.
Sebagian besar bangunan memilik arcade sabagai satu kesatuan dengan bangunan utama. Selain bangunan ruko, bangunan lain yang terdapat pada kawasan Ampenan adalah berupa rumah tinggal besaran yang berdiri sendiri atau terletak pada kompleks, rumah tinggal tunggal terpisah sedang dan kecil yang banyak terdapat dan mengisi kampung-kampung Melayu, Banjar, Bugis, Jawa, dan lain sebagainya.
Selain ruko, terdapat bangunan industri–pabrik pengolahan kebutuhan sehari-hari, bangunan ibadah, rumah kumpulan komunitas-komunitas, bangunan kesehatan, bangunan kantor dan perkantoran, bangunan pasar–tradisional dan modern, bangunan komersial lain, termasuk hotel dan losmen; cafe dan restoran dan bangunan khusus berupa mercusuar, Depo Pertamina, pengolahan air bersih, PLN, dan lainnya.
Wilayah dan perkampungan yang dihuni oleh berbagai etnis dibagi menjadi tiga kelurahan yaitu kelurahan Ampenan Utara, Kelurahan Ampenan Tengah dan Kelurahan Ampenan Selatan, yang sampai sekarang menjadi pertumbuhan dan perkembangan pemekaran wilayah disetiap sudut Kota Mataram. Karena begitu heterogennya, masyarakat terus didorong untuk menjaga dan merawat keberagaman dengan menjaga hubungan yang baik di antara mereka.
Heterogenitas penduduk Ampenan tercermin dari pemukiman penduduknya yang diberi nama sesuai dengan nama daerah asalnya, seperti Kampung Bajar, Kampung Bugis, Kampung Melayu, Kampung Arab, Kampung Flores, Kampung Jawa. Untuk penduduk etnis Cina menempati langsung ditempat penjualannya/toko yang biasanya terletak di disekitar jalan raya.
Selain nama pemukiman yang mencerminkan daerah asal, heterogenitas penduduk di Ampenan juga dapat dilihat dari model bangunan serta penataan tempat tinggal.
Adapun pemukiman penduduk yang masih mencirikan nama asli daerah asal penduduk adalah, Pemukiman Etnis Arab. Semula diberi nama Karangkerem, diberi nama demikian karena setiap kali musim hujan, perkampungan ini selalu terendam banjir. Hal ini dikarenakan perkampungan letaknya lebih rendah dari sekitarnya.
Dalam perkembangannya nama ini berubah menjadi Telagamas yang artinya mencerminkan terwujudnya ketika musim hujan tadi terendam menyerupai Telaga dan identik dengan etnis pendatang baru yaitu etnis Arab yang telah terjadi perkawinan campuran dengan etnis Sasak atau etnis lainnya menjadi pekerja tukang emas. Bangunan pemukiman penduduk umumnya terbuat dari batu bata dan berpagar tinggi sehingga sulit dilihat dari luar.
Pemukiman Etnis Eropa termasuk orang Belanda yang masih secara turun-temurun tinggal di Ampenan dan pernah bekerja sebagai pegawai 'Handels Bank' dan perusahan pelayaran KPM (milik Belanda). Mereka tinggal dengan jenis pemukiman dalam satu kompleks yang dikeliling tembok yang cukup tinggi dengan gaya arsitek eropa dan dilengkapi dengan lapangan tenis.
Nama perkampungannya adalah Kampung Kapitan, artinya pada masa pendudukan Belanda di Lombok mereka menjadai pegawai ”Kapiten” atau menurut bahasa penduduk asli Sasak disebut ”Keliang”. Di Kampung Kapitan terdapat nama Tangsi tentara Belanda yang dilengkapi dengan lapangan latihan Militer (latihan tembak).
Dalam perkembangannya perkampungan Tangsi itu menjadi pemukiman tersendiri yang lebih banyak dihuni oleh etnis Indonesia bagian timur, yaitu etnis Maluku dan Timur.
Pemukiman Etnis Bali, biasanya diberi nama sesuai dengan kampung tinggal di Bali, seperti Karangujung. Warganya sebagian besar berasal dari kasta Waisa dengan pola kehidupan yang sederhana tinggal dalam satu kompleks. Pemukiman etnis Bali ini mempunyai ciri tersendiri, dimana di setiap rumah dibangun sanggah sebagai tempat sembahyang bagi mereka. Mata pencaharian mereka adalah petani dan pedagang.
Pemukiman Etnis Jawa. Arsitektur bangunan mengikuti pola arsitektur yang ada dan penataan pemukiman disesuaikan dengan status sosial ekonomi mereka. Etnis Jawa ini dalam perkembangannya mendirikan kampung Jawa.
Pemukiman Etnis Melayu. Memiliki bentuk dan jenis bangunan hampir sama dengan pemukiman etnis pulau Sumbawa (Bima dan Sumbawa) yaitu berasal dari kayu, dengan jenis rumah tiang kayu (panggung) berlantai papan dengan penataan rumah dan jaraknya yang cukup sederhana. Kadang jarak dari satu rumah ke rumah yang lain sekitar 25 meter sampai 35 meter. Akan tetapi karena pertambahan penduduk semakin pesat sehingga penataan menjadi padat dan batas pagar tidak tampak.