JAKARTA - Moda Raya Tepadu (MRT) panen berbagai cerita viral dan mencuri perhatian netizen sejak pertama kali diperkenalkan ke publik. Salah satunya ketika beredarnya foto di media sosial (medsos) yang memperlihatkan sekelompok orang sedang asyik makan bareng di lantai area stasiun.
Menanggapi fenomena itu, pengamat transportasi, Universitas Soegijapranata, Djoko Setijowarno meyakini bahwa seiring berjalannya waktu dapat mengubah perilaku norak tersebut. Hal tersebut disebabkan masih kentalnya kearifan lokal dan mereka tak mengetahui kalau di sana tidak boleh seperti itu.
"Dalam hal tertentu saya bisa memaklumi, contoh piknik bersama. Itu kearifan lokal, tapi salah tempat," kata Djoko saat berbincang dengan Okezone belum lama ini.
Menurut dia, peristiwa itu terjadi lantaran adanya perbedaan kesenjangan yang mencolok di Indonesia khususnya di Ibu Kota.
"Masyarakat indonesia itu ada kesenjangan tinggi antara kaya dan miskin. Umpamanya di Indonesia itu di angka perbandingan 1-10, tapi kalau di negara lain itu 1-5," ujarnya.
Terkait kehebohan di media sosial sosial lainnnya, seperti tersebar foto seorang ibu-ibu yang bergelantungan di dalam MRT sementara ada teman yang memfotonya, ia menilai perbuatan itu tidak bisa dimaklumi. Satu-satunya solusi agar itu tak terjadi kembali, maka harus ada ketegasan dari petugas yang bertugas di sana.
"Itu kebiasaan di rumah yang tidak terdidik, karena itu membahayakan dirinya juga," ucap Djoko.
Kejadian itu menurutnya, tidak perlu terlalu dibesar-besarkan. Sebab, dirinya menilai kebiasaan buruk itu akan hilang dengan sendirinya, bila para petugas PT MRT memberikan sosialisasi yang baik kepada masyarakat.
Ia mencontohkan, dahulu banyak yang berpandangan negatif ketika pemerintah membereskan keamburadulan di kereta rel listrik. Namun, hal tersebut luntur saat pemerintah menerapkan sosialisasi yang baik di sana.
"Dulu KRL itu seperti apa? Kemudian sekarang di Jakarta tidak kalah dengan di Eropa. Kita itu sekarang sudah tertib. Memang dulu khawatir, ternyata enggak juga. Tapping (e-tiket) yang rebutan, tapi sekarang bisa mau antre. Beli tiket mau antre," tuturnya.
(Rizka Diputra)