Akhirnya Wilda lulus dan diterima menjadi masinis wanita MRT. Ia langsung mengikuti pendidikan di Akademi Perkeretaapian Indonesia di Madiun, Jawa Timur, selama satu setengah bulan.
Kemudian terbang ke Kuala Lumpur, Malaysia untuk mengikuti pelatihan yang diadakan oleh Rapid Rail Academy milik Prasarana Malaysia.
Perusahaan mengharuskan masinisnya belajar ke Malaysia lantaran MRT di Indonesia mirip dengan di Negeri Jiran, yakni pada mode pengoperasian semi otomatis.
Setelah dinyatakan lulus pendidikan, Wilda mendapat sertifikat dari Kementerian Perhubungan. Dia dinyakatan layak mengemudikan ‘ular besi’ bawah tanah alias MRT.
"Jadi masinis dan membawa kereta sendiri itu harus memiliki smart card, buku kecakapan masinis. Kita emang layak menjadi seorang masinis MRT," ujarnya.
Wilda bangga menjadi masinis MRT. Orangtuanya pun demikian. "Mereka pun merasa bersyukur dan bangga," kata Wilda.