Sementara Nilai Ekspor yang paling besar, kata Nuryanti ditempati produk minyak nabati, lemak serta karet. Ekspor minyak nabati terdiri atas minyak kelapa sawit, minyak kelapa, dan minyak nabati lain termasuk margarin.
"Gambaran ekspor ini menunjukkan dominasi subsektor perkebunan. Terdapat juga ekspor komoditas hortikultura dan tanaman pangan, meskipun sejauh ini realisasinya belum optimal," katanya.
Impor Jepang untuk sayuran juga datang dari Indonesia. Misalnya, untuk kelapa parut, pisang, tepung sagu, cabe, pisang, bunga potong, terung, tomat, jamur, kubis, selada, dan tanaman hias. Selain itu, buah jambu biji, mangga, manggis, pisang, nanas, dan pepaya juga memiliki potensi yang sama.
"Saat ini, realisasi ekspor pisang dan nanas mencapai 99 persen dari potensi ekspor yang ada. Buah yang lain potensinya belum tergarap karena kendala teknis persyaratan keamanan dan kesehatan pangan segar yang diberlakukan Jepang," katanya.
Sebelumnya dalam beberapa kesempatan, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, menyatakan semua produk pertanian Indonesia memiliki peluang besar untuk di ekspor ke negara-negara di Asia, Eropa bahkan benua Amerika. Sebagian diantaranya bahkan sudah berjalan. Kata Amran, kondisi ini tak lepas dari arahan Presiden Joko Widodo.
(Fahmi Firdaus )