Untuk komoditas perkebunan, NTT mengekspor produk olahan kayu jati atau mebel yang merupakan hasil dari pengrajin asli NTT maupun pendatang. Mebel ini juga banyak diminati oleh negara tetangga Republik Demokrat Timor Leste (RDTL). Jika dilihat dari data yang tercatat di Karantina Kupang ekspor mebel pada tahun 2016 sebanyak 814 m3 atau senilai Rp8,1 miliar, tahun 2017 sebanyak 1.915 m3 senilai Rp19,1 miliar dan tahun 2018 sebanyak 3.102 m3 senilai Rp31,02 miliar. Terlihat adanya tren peningkatan permintaan dari negara tujuan.
Dalam kesemptan yang sama Petrus Bere, Sekda Belu, menyampaikan apresiasinya atas program pembangunan pertanian yang dilakukan Kementerian Pertanian diwilayahnya. “Kedepan, saya berharap langkah konkrit berupa program pendampingan memasuki pasar ekspor yang diselenggarakan oleh Karantina Kupang dapat terus ditingkatkan," ujar Petrus
Selain itu, Kementan melalui Barantan juga tengah menggalakan Program Agro Gemillang yang digelar serentak di seluruh Indonesia. Program ini dilakukan untuk mendorong ekspor produk pertanian oleh generasi milenial bangsa. Untuk mendukung terlaksananya program tersebut Barantan juga telah menyiapkan aplikasi peta potensi ekspor produk pertanian, i-MACE. Aplikasi berbasis web ini diserahkan ke setiap pemimpin daerah dengan harapan dapat menjadi landasan kebijakan pembangunan pertanian, khususnya bidang investasi dan eksportasi disetiap wilayah.
Pelepasan ekspor yang ditandai dengan pengguntingan pita ini didahului dengan penyerahan sertifikat kesehatan tumbuhan ekspor kepada para eksportir.
Turut hadir pada acara pelepasan ekspor ini adalah perwakilan dari Konsulat RDTL, Direktur Karantina RDTL, Kepala BNPP Belu, Kepala Bea Cukai Atambua, Kepala Imigrasi Atambua, Kapolres Belu, Dandim Belu, kepala Dinas Pertanian, kepala Dinas Peternakan, kepala Dinas Perdagangan, Karantina Ikan, Karantina Kesehatan, camat Tasifeto Timur, instansi terkait lainnya dan masyarakat sekitar PLBN Mota'ain.
(Risna Nur Rahayu)