Kisah Bir Ali dan Sejarah Panjang Cikini

Fiddy Anggriawan , Jurnalis
Kamis 06 Juni 2019 14:02 WIB
Kawasan Stasiun Cikini Jakarta Pusat (foto: Fakhrizal Fakhri/Okezone)
Share :

Sampai dengan tahun 1970-an, di sini tinggal H Asnawi, ahli pengobatan tulang yang oleh orang Jakarta di sebut sangkal putung atau dukun patah. Entah berapa ribu penderita patah tulang yang telah ditolongnya.

Di kampung ini juga tinggal perintis musik dangdut (dulu bernama orkes Melayu) dari keluarga Harris. Seperti, A Harris dan Bahfen Harris. A Harris yang terkenal dengan lagu Kudaku Lari pernah kawin dengan bintang film Malaysia, Rodiah, janda penyanyi dan aktor P Ramlee, bintang legendaris Malaysia.

 

Di Jalan Raya Raden Saleh terdapat RS DGI Cikini yang dulunya merupakan rumah pelukis kelahiran Terboyo (Semarang), Raden Saleh Sjarif Bustaman (1808-1870). Di jalan ini ada sebuah poliklinik yang pernah dihebohkan sebagai tempat praktik aborsi ilegal. Entah sudah berapa ribu janin dibunuh di poliklinik ini, yang terbanyak akibat hamil di luar nikah.

Restoran Oasis yang terdapat di jalan ini masih tampak megah hingga kini. Gedung ini dibangun awal abad ke-20 oleh seorang baron Belanda yang pada tahun 1940 ditangkap atas tuduhan menjadi kaki tangan Jerman. Restoran ini dihiasi dengan banyak lukisan, patung dan permadani yang sangat mahal. Tidak ketinggalan sejumlah barang antik dari Prancis, Jerman, dan Belanda menjadi koleksi gedung tua ini.

Baca Juga: Asal Muasal Nama Ragunan yang Kini Jadi Kebun Binatang 

Sesudah tahun 1940, gedung Oasis itu berturut-turut digunakan sebagai tempat tinggal gubernur jenderal Belanda (yakni sebagai tempat persembunyian mereka ketika tentara Jepang sudah berada di ambang pintu masuk ke Indonesia).

Setelah kemenangan Jepang, Oasis sempat dijadikan sebagai tempat tinggal para opsir tinggi tentara Jepang. Sesudah Perang Dunia II gedung itu menjadi tempat tinggal pejabat perwakilan Angkatan Laut AS yang bergabung dalam tentara Sekutu. Ketika masih menjabat Menristek dan Ketua BPPT, BJ Habibie sering menjamu tamu-tamu asingnya di tempat ini.

Di Cikini juga terdapat Masjid Jami Cikini yang dibangun oleh Raden Saleh. Masjid ini usianya sudah lebih dari satu abad. Dahulu masjid ini menjadi tempat mengajar Habib Salim Bin Djindan dan Habib Alwi Djamalullail. Keduanya dikenal sebagai dai vokal dan seringkali tanpa tedeng aling-aling (basa-basi) melontarkan kritik pada pemerintah kolonial Belanda.

Beberapa kali mereka dijebloskan ke dalam penjara baik pada masa penjajahan Belanda, Jepang, hingga pemerintahan Soeharto.

(Fiddy Anggriawan )

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya