Yunarto pun mengaku enggan ambil pusing terkait fenomena itu. Menurut dia, suatu kelompok yang tidak percaya dengan hasil survei ataupun hitung cepat dipastikan mereka termasuk dalam golongan pendukung salah satu paslon yang kalah.
"Sederhana kok lembaga survei selalu tidak dipercaya oleh pihak yang kalah, dan itu enggak terjadi sekarang saja," ucap dia.
"Tidak hanya terjadi di pilpres ataupun pilkada di situasi yang sama selalu terjadi bahwa ada ketidakpercayaan terhadap hasil yang dirilis lembaga survei mau itu lembaga survei atau quick count (hitung cepat) ketika jagoannya kalah," tambah dia.
Yunarto pun menyebut masyarakat Indonesia saat ini terjebak dalam demokrasi kultus. Hal itu menurut dia, ditandai dengan pembelahan di masyarakat akibat Pemilu Serentak 2019.
Oleh karena itu, dia sangat berharap agar ke depannya masyarakat dalam menghadapi pemilu mendatang tidak lagu terjebak dalam demokrasi kultus yang memuja sosok tertentu dan membenci lawan politik dari sosok yang dibanggakannya.
"Buat saya paling penting kita jangan terjebak demokrasi kultus. Demokrasi yang menunjukkan sosok tertentu sehingga kemudian kita terjebak pada kebencian dengan kandidat tertentu, kemudian kelompok yang lain dan mendewakan kandidat yang kita dukung. Sehingga ke kritikan menjadi hilang yang muncul hanya perpecahan antara kelompok di masyarakat," tutur Yunarto.
(Hantoro)