Posisi Sultan Hamengkubuwono saat itu sangat kuat, maka Belanda tak pernah mengutak-atik dan mengganggu sultan. Bahkan pasca-perundingan Renville dan Agresi Militer ke-2, saat Belanda mengasingkan Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta dan Sutan Syahrir ke Pulau Bangka, Sultan tetap berada di Yogyakarta. Pemerintah Belanda saat itu sangat menghormati kekuatan dan pengaruh Sultan.
Perjalanan perjuangan mempertahankan kemerdekaan 19 Agustus 1945 terus dilakukan. Secara diam-diam, istana tempat kediamannya lalu dipakai sebagai tempat persembunyian para prajurit dan pejuang rakyat. Bantuan logistik juga diberikan demi memperlancar pergerakan perjuangan tersebut.
Sultan pun pernah ditunjuk Presiden Soekarno saat itu untuk menjadi penjaminb keamanan bagi tentara Belanda yang sedang memindahkan pasukannya dari Yogyakarta atas kesepakatan yang diperoleh dari Perjanjian Roem Royen.
Kian terdesak pada 27 Desember 1949 Belanda lalu menyerahkan kedaulatan di Istana Merdeka Jakarta yang saat itu adalah Istana Rijkswik. Pada saat sama, juga dilakukan penyerahan kedaulatan dari Wakil Tinggi Mahkota Belanda kepada Pemerintah Republik Indonesia Serikat (RIS) dan diterima Sri Sultan Hamengkubuwono IX sebagai wakil Pemerintahan RIS kala itu.
Karier dan perjuangannya yang dilakukan pada masa-masa perjuangan sebelum dan setelah Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 telah memberikannya jalan baginya mendapatkan sejumlah jabatan.
Sebelum diangkat menjadi Wakil Presiden ke 2 di era Presiden Soeharto pada 23 Maret 1973–23 Maret 1978, Bapak Pramuka Indonesia peraih penghargaan Bronze Wolf Award dari World Organization of the Scout Movement (WOSM) pada tahun 1973 itu juga pernah berkiprah sebagai menteri.
Sejumlah kementerian yang pernah dijejakinya sejak era Soekarno hingga Soeharto yaitu, Menteri Koordinator Ekonomi Keuangan dan Industri Indonesia (Menko Ekuin) Kabinet Pembangunan I sejak 25 Juli 1966–29 Maret 1973 pada masa Pemerintahan Presiden Soeharto.
Menteri Negara Indonesia era Presiden Soekarno 2 Oktober 1946 – 20 Desember 1949. Menteri Pertahanan Indonesia 15 Juli 1948 – 20 Desember 1949 dan Wakil Perdana Menteri ke-5 pada 6 September 1950 – 27 April 1951 di zaman Pemerintahan Presiden Soekarno.
Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta terlama sejak 4 Maret 1950 hingga 2 Oktober 1988 itu akhirnya menutup usianya pada Minggu malam 2 Oktober 1988 di George Washington University Medical Center, Amerika Serikat karena serangan jantung.
Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Indonesia periode 14 Agustus 1961 sampai 27 November 1974 itu akhirnya dikebumikan di pemakaman para Sultan Mataram di Imogiri, Kabupaten Bantul, Yogyakarta.
(Awaludin)