15.000 Ton Produk Pangan Indonesia Diekspor Sepanjang Semester I 2019

Risna Nur Rahayu, Jurnalis
Selasa 13 Agustus 2019 00:43 WIB
Foto: Ditjen Tanaman Pangan
Share :

JAKARTA - Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan, Suwandi, melakukan terobosan baru dengan mengajak berdiskusi dan bertukar informasi lapangan dengan berbagai pihak, untuk bersinergi, mendorong akselerasi ekspor komoditas pangan, sesuai arahan Presiden dan mentan Andi Amran Sulaiman.

Diskusi tersebut dihadiri seluruh pejabat lingkup tanaman pangan dan juga unit kerja yang berkaitan dengan ekspor di lingkup Kementan. Di samping itu, hadir juga Ketua Kadin Bidang Pangan, Sekjend Dewan Jagung Nasional, eksportir dan Direktur Amerika II dari Kementerian Luar Negeri.

Suwandi menjelaskan, periode Januari hingga Juni 2019, ekspor produk pangan mencapai 15.000 ton ata senilai Rp170 miliar. Sedikitnya ada 10 komuditas yang diekspor, di antaranya beras, beras ketan, jagung, kedelai, kacang tanah, kacang hijau, ubi kayu, ubi jalar, talas, dan tanaman pangan lainnya. Sementara negara tujuannya ke-29 negara di antaranya Hong Kong, Singapura, Australia, Amerika, Italia, China, Thailand, Filipina, Malaysia, India, dan Pakistan.

Dan diskusi yang melibatkan banyak pihak tersebut sangat penting untuk mendorong pertumbuhan ekspor di periode selanjutnya. "Lewat diskusi ini, kita dapat memetakan potensi dan memfasilitasi eksportir serta membimbing petani untuk dapat memenuhi kualitas produksi yang diinginkan eksportir," terang Suwandi.

Mentan Andi Amran Sulaiman, sambungnya, memerintahkan pihaknya untuk mendampingi eksportir dan menyiapkan apa saja yang dibutuhkan eksportir. Mulai dari dukungan administrasi kepabeanan, sarana pendukung seperti ware house, hingga volume komoditas yang diinginkan.

Sementara itu, Direktur Amerika II Kemenlu, Darianto Harsono, menjelaskan bahwa Indonesia sangat berpeluang menjadi pemain utama untuk memasok bahan pangan ke wilayah Amerika Selatan dan wilayah Karibia. Kunjungan Presiden Argentina ke Indonesia beberapa waktu lalu, berperan besar membuka kran ekspor produk pertanian Indonesia ke wilayah tersebut.

"Khususnya untuk produk pangan organik yang sangat diminati warga Amerika Selatan. Masyarakat di sana peduli akan kesehatan. Dan kita bisa menawarkan produk pertanian dengan kemasan healty food. Itu berpeluang sangat besar," ujar Darianto dalam konferensi pers usai diskusi tersebut.

Selain wilayah Amerika Selatan dan Karibia, Indonesia berpotensi menjadi pemasok produk pertanian di negara-negara lain. Indonesia sendiri memiliki perwakilan di 132 negara, dan Kemenlu terus mendorong dan mengoptimalkan seluruh potensi untuk meningkatkan ekspor komoditas pertanian.

"Dalam 3 tahun terakhir data menunjukkan peningkatan yang signifikan dan ini akan kita dorong terus, dengan menampilkan produk pertanian berlabel healty," tegasnya.

Sedangkan Asosiasi Eksportir dan Kadin, sangat mengapresiasi kegiatan diskusi membangun Sinergitas dan Akselerasi Ekspor Produk Pangan yang digagas oleh Ditjen Tanaman Pangan. Dengan diskusi tersebut, pelaku pertanian semangat untuk menggenjot produksi.

"Dengan kegiatan ini kita dapat memadukan semua kepentingan, mulai dari hulu hingga hilir produk pertanian kita. Bahkan kita berharap ini harus menjadi agenda rutin serta mencakup semua sub sektor pertanian," ujar perwakilan Kadin Jawa Timur, Junaedi.

Menurutnya, dalam tiga tahun terakhir terjadi perubahan membanggakan pada sektor pertanian/ Perubahan itu membuat minat pelaku usaha untuk berinvestasi meningkat. Bukan hanya pada kegiatan ekspor, namun investasi membangun ware house dan pergudangan.

"Pergudangan kami ada di Jawa Timur, Medan, Batam. Fasilitas ini akan kami lanjutkan hingga ke Indonesia Timur," pungkas Junaedi.

(Risna Nur Rahayu)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya