3. Mulawarman
Kasus pembunuhan juga sempat menghebohkan rakyat Indonesia. Di mana Hakim Agung, MA, Syarifuddin Kartasasmita menjadi korban pembunuhan. Syarifuddin dibunuh oleh Mulawarman yang merupakan pembunuh bayaran.
Kejadian itu terjadi pada tahun 2001. Pada kejadian itu Syaifuddin Kartasasmita, meninggal dunia setelah ditembak oleh empat orang saat menuju ke kantornya.
Hakim Agung itu dibunuh Mulawarman bersama rekannya. Kasus pembunuhan itu terjadi lantaran adanya kasus tukar guling Goro Batara Sakti yang masuk dalam Yayasan Soeharto.
Diketahui, pembunuh dari Hakim Agung Syarifuddin Kartasasmita dilakukan oleh dua orang, Mulawarman dan Bob Hasan. Keduanya, melakukan pekerjaan atas perintah anak Soeharto.
Berangkat dari kasus tersebut, pengadilan memvonis Tommy Soeharto bersalah dengan hukuman penjara 15 tahun.
4. Gunawan Santoso
Gunawan Santoso merancang dalam kasus pembunuhan terhadap Boedyharto Angsono. Gunawan merancang pembunuhan dengan sangat mengerikan. Di mana rancangan pembunuhan itu untuk menghabisi nyawa mantan mertuanya sendiri.
Hal tersebut Gunawan lakukan karena sakit hati dipenjarakan oleh mertuanya dalam kasus penggelapan uang. Setelah dipenjara, Gunawan sempat melarikan diri dan face off.
Gunawan bersembunyi dan merencanakan pembunuhan terhadap mertuanya. Dari rencana yang telah dibuat, mertuanya pun dieksekusi secara mengerikan.
Di mana mertuanya Boedyharto Angsono, dibunuh dengan cara ditebak dari jarak jauh. Eksekusi itu melibatkan empat marinir yang disewa Gunawan Santoso.
Kasus tersebut terjadi pada 19 Juli 2003. Di mana Boedyharto Angsono merupakan Direktur Utama PT Aneka Sakti Bhakti (PT. Asaba).
Sebelum Boedyharto, anak buahnya lebih dahulu menjadi sasaran pembunuhan, Paulus Teja Kusuma. Paulus adalah Direktur Keuangan PT. Asaba.
Di mana Paulus ditembak dua orang pengendara motor di jalan Angkasa Jakarta Pusat, di depan Hotel Golden, pada 6 Juni 2003. Paulus ditembak pembunuh bayaran yang menembakkan peluru ke dada dan leher Paulus. Namun, Paulus selamat dari maut.
Pada 19 Juli 2003 atau enam pekan setelah penembakan Paulus. Giliran Boedyharto yang saat itu bersama pengawal pribadinya, Serda Edy Siyep, anggota Kopassus yang ditembak pembunuh bayaran.
Keduanya ditembak mati sekira pukul 05.30 WIB, di depan lapangan basket Gelanggang Olahraga Sasana Krida Pluit, Jakarta Utara.