“Mereka memotong jari saya, bertanya mengapa saya tetap turut serta dalam pemilu meski telah diperingatkan mereka… Keluarga saya meminta agar tidak melakukannya kali ini, tetapi saya malah membawa mereka semua untuk ikut memilih,” ujar Saifullah.
Aksi perlawanan tersebut disambut hangat masyarakat Afghanistan di media sosial. Banyak dari mereka khawatir akan kembalinya kekuasaan Taliban dan berakhirnya demokrasi serta kemerdekaan yang sudah susah-payah diraih.
“Ia menggunakan hak pilihnya untuk mendukung demokrasi dan menolak sistem Taliban,” ujar seorang pengguna Twitter, Kabuli.
Di sebagian daerah Afghanistan yang dikuasai Taliban – yang kini mencapai titik terluasnya sejak 2001 – memilih dalam pemilu sangat berisiko dan tingkat partisipasi cenderung sangat rendah. Para pemberontak menutup banyak TPS untuk menunjukkan kekuasaannya.
(Rachmat Fahzry)