JAKARTA - Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto menemui Ketua Umum Nasdem Surya Paloh di kediamannya pada Minggu 13 Oktober 2019 malam. Usai bertemu, Ketua Umum Nasdem tersebut mengatakan tidak masalah jika Gerindra mau gabung dengan koalisi.
Namun, pertemuan kedua pimpinan partai politik (parpol) pasca Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 tersebut disorot tajam oleh Wasekjen Partai Demokrat Andi Arief. Aktivis 98 yang pernah diculik Tim Mawar itu khawatir demokrasi terpimpin akan hidup kembali seperti sebelum era reformasi.
Baca Juga: Pertemuan Prabowo dengan Surya Paloh Dinilai untuk Minta Restu Masuk Koalisi Jokowi
"Semoga kekhawatiran saya soal cita2 Prabowo menghidupkan demokrasi terpimpin tidak terjadi. Saya betul-betul khawatir, apalagi beliau sering pragmatis seperti Surya Paloh," kicau Andi Arief di akun Twitter @AndiArief__, Senin (14/10/2019).
Andi juga meminta agar Presiden Joko Widodo (Jokowi) bisa menyelamatkan Indonesia dari upaya demokrasi terpimpin yang diinisiasi tokoh dan kekuatan politik yang dapat memundurkan sistem demokrasi di Indonesia.
"Mudah-mudahan Pak Jokowi bisa menyelamatkan jalan demokrasi yang benar menghadapi rencana demokrasi terpimpin ala Pak Prabowo, Surya Paloh dan beberapa kekuatan politik lainnya. Mereka menikmati demokrasi untuk memundurkannya," tulis @AndiArief__.
Dia kembali berkomentar soal pertemuan Prabowo dan Surya Paloh, kemarin. "Mereka tidak akan timbul tenggelam bersama rakyat, mereka timbul tenggelam dengan cita-cita kediktatoran," cuit @AndiArief__
Namun, menurut Ketua DPP Partai Nasdem, Irma Suryani Chaniago, pertemuan Surya Paloh dengan Prabowo Subianto membahas peluang partai berlambang Garuda itu masuk dalam koalisi pemerintahan Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin.
"Biasa silaturahmi kebangsaan. Selain ,itu tentu ada lobi-lobianlah ya, terkait ingin masuknya Gerindra ke partai koalisi. Tentu kan partai koalisi harus satu suara," ucap Irma kepada Okezone, Minggu 13 Oktober 2019.