Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Sejarah Letusan Dahsyat Gunung Krakatau hingga Terbentuknya Anak Krakatau

Tim Okezone , Jurnalis-Senin, 07 September 2026 |04:01 WIB
Sejarah Letusan Dahsyat Gunung Krakatau hingga Terbentuknya Anak Krakatau
Erupsi Gunung Anak Krakatau (Foto: PVMBG)
A
A
A

JAKARTA - Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali mengalami erupsi menerus pada 5 September 2026 pukul 23.07 WIB. Aktivitas tersebut disertai suara gemuruh dan menyebabkan abu vulkanik menyebar ke sejumlah wilayah, di antaranya Jakarta, Banten, Jawa Barat, Lampung, dan Bengkulu.

Erupsi Gunung Anak Krakatau bukan merupakan aktivitas vulkanik yang baru terjadi. Jauh sebelum dikenal sebagai Gunung Anak Krakatau, gunung api aktif itu telah mencatat sejumlah letusan besar ketika masih menjadi Gunung Krakatau.

Berikut sejarah aktivitas erupsi Gunung Krakatau hingga terbentuknya Gunung Anak Krakatau, berdasarkan informasi pada laman resmi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM):

1680-1681

Gunung Krakatau tercatat mengalami erupsi sejak Mei 1680 hingga Mei 1681. Aktivitas vulkanik yang berlangsung sekitar satu tahun tersebut disertai leleran lava.

1883

Setelah lama tidak menunjukkan aktivitas vulkanik, Gunung Krakatau kembali mengalami erupsi dahsyat pada 1883. Aktivitas tersebut dimulai pada 20 Mei 1883 dan diawali letusan Gunung Perbuatan.

Letusan menghasilkan abu dan semburan uap yang mencapai ketinggian sekitar 11 kilometer. Dentuman dari aktivitas vulkanik tersebut bahkan terdengar hingga radius 200 kilometer.

Aktivitas kemudian berlanjut pada Juni di Gunung Danan. Rangkaian erupsi terus berlangsung hingga 26-28 Agustus dengan puncak aktivitas terjadi pada 27 Agustus.

Dentuman letusan terdengar hingga Singapura dan Australia. Gunung Krakatau juga memuntahkan batu apung serta abu hingga ketinggian 70-80 kilometer, sementara endapannya mencakup wilayah seluas 827 ribu kilometer persegi.

Runtuhnya tubuh gunung api tersebut kemudian memicu tsunami dengan ketinggian gelombang mencapai 20 kilometer. Tsunami menerjang pantai di Selat Sunda dan wilayah barat laut Jawa. Sebanyak 36.417 orang meninggal dunia akibat bencana tersebut.

Setelah periode erupsi itu, aktivitas vulkanik kembali muncul dalam bentuk letusan freatik pada September dan Oktober 1883. Aktivitas tersebut berlanjut dengan letusan freatik pada Februari 1884.

1927-1930

Aktivitas vulkanik baru tercatat pada 29 Desember 1927 di pusat kaldera, tepatnya di timur laut dasar kaldera pada kedalaman 188 kilometer. Peristiwa tersebut dinyatakan sebagai kelahiran Gunung Anak Krakatau.

Kawah baru itu berada dalam satu garis dengan kawah Gunung Danan dan Gunung Perbuatan yang sebelumnya telah terbentuk.

Sepanjang 1928, Gunung Anak Krakatau beberapa kali mengalami erupsi. Aktivitas tersebut tercatat pada 5 Februari, 25 Maret, 2 Juni, 6-13 Juli, 25 Agustus-4 September, 4-26 November, serta 11-20 Desember.

Pada 1929, erupsi kembali terjadi dalam beberapa periode, yakni 12 Januari-18 Februari, 6-13 Maret, 8-20 Juni, 25 Juli-25 Agustus, 19 September-7 Oktober, dan 7-23 Desember.

Aktivitas berlanjut pada 1930, dengan erupsi tercatat pada 14-28 Januari, 10 Maret-5 April, 30 April-5 Mei, serta 2 Juni-15 Agustus.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement