1961-1968
Pada 1961, Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi yang menghilangkan danau kawah berbentuk bulan sabit. Leleran lava kemudian mengisi kawah dan bagian timur bibir kawah. Dua tahun kemudian, ada 1963, leleran lava menembus laut dan membentuk struktur menyerupai kipas.
Aktivitas vulkanik berikutnya terjadi pada 1968 berupa erupsi freatik selama September.
1972-1973
Pada 1972, erupsi abu Gunung Anak Krakatau mencapai ketinggian 1.600 meter. Aktivitas tersebut tercatat pada 26 Juni, 21-22 Desember, dan 29 Desember, kemudian berlanjut hingga Januari 1973.
Setahun kemudian atau 1973, aktivitas vulkanik diakhiri dengan leleran lava ke arah selatan, barat daya, dan barat. Lava tersebut menembus laut dan menyebabkan daratan semakin luas.
1975-1979
Erupsi kembali berlangsung pada 1975 dan diakhiri dengan leleran lava menuju barat-barat laut. Pada 1979, erupsi terjadi sepanjang tahun dan berakhir dengan leleran lava ke arah barat daya.
1981-1988
Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi abu pada Februari hingga Juli. Aktivitas tersebut kemudian diakhiri dengan leleran lava menuju selatan yang menindih lava hasil aktivitas pada 1973.
Pada pertengahan 1984, gunung api tersebut kembali mengalami letusan, tetapi tanggal pastinya tidak diketahui. Kemudian pada 1988, erupsi abu terjadi pada 16-18 Maret dan membentuk kawah baru di lereng selatan. Aktivitas tersebut diikuti leleran lava terbatas di lereng selatan.
1992-2000
Pada periode ini, Gunung Anak Krakatau terus mengalami erupsi hingga tahun 2000. Pada 2000, erupsi menerus menghasilkan abu dengan ketinggian 400-800 meter serta leleran lava.
Leleran lava juga tercatat pada November-Desember 1992, April-Mei dan Juni 1993, serta Januari, Juni, dan Juli 1996.
Aktivitas tersebut menambah luas daratan pulau. Material yang dikeluarkan berupa lava dan material lepas mencapai 22 juta meter kubik, sedangkan penambahan daratan tercatat seluas 380.000 meter persegi. Tinggi Gunung Anak Krakatau mencapai 305 meter di atas permukaan laut.
2001-2010
Pada periode ini, Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi abu pada 5 Juli. Kemudian pada 24-26 September 2005, aktivitas erupsi kembali terjadi.
Aktivitas kegempaan meningkat pada 20-22 Oktober 2007. Sehari setelahnya, pada 23 Oktober, terjadi erupsi yang menyebabkan terbentuknya lubang letusan baru di dinding selatan Gunung Anak Krakatau.