Pada April 2008, erupsi abu disertai lontaran pijar dengan ketinggian 100-500 meter kembali terjadi. Sementara pada Oktober 2010, Gunung Anak Krakatau mengalami letusan abu dengan ketinggian asap sekitar 100-1.700 meter.
2018
Sepanjang Juni-Desember 2018, Gunung Anak Krakatau kembali aktif mengalami erupsi. Letusan pada 18 Juni tercatat sebanyak 576 kali, kemudian pada 30 Juni sebanyak 745 kali.
Pada 3-4 Juli 2018, erupsi terjadi sebanyak 227 kali dengan material berupa abu, pasir, dan lava pijar yang keluar dari kawah.
Selanjutnya 3 Agustus 2018, Gunung Anak Krakatau mengalami 227 kali letusan yang melontarkan abu, pasir, dan lava pijar. Aktivitas tersebut menyebabkan kawasan masuk zona bahaya dengan ketinggian kolom mencapai 100-200 meter.
Pada 25 September 2018, Anak Krakatau kembali meletus sebanyak 99 kali dan memuntahkan lava pijar hingga ke laut. Kemudian, pada 5-6 Oktober 2018 terjadi 348 kali letusan dengan ketinggian 100-200 meter.
Saat itu, status aktivitas berada pada level II atau waspada karena terdapat sinaran api dan dentuman dari Gunung Anak Krakatau.
Letusan kembali terjadi pada 10 November 2018 sebanyak 185 kali dengan ketinggian mencapai 300-800 meter. Puncak aktivitas pada periode tersebut terjadi pada 22 Desember 2018 sekitar pukul 21.03 WIB. Gunung Anak Krakatau memuntahkan tiang debu setinggi 1.500 meter di atas puncak.
Letusan pada 22 Desember 2018 tersebut kemudian memicu tsunami yang menerjang pantai di kawasan Selat Sunda.
2023-2026
Setelah 22 Desember 2018, seri erupsi berskala rendah terus berlangsung sebagai fase konstruksi pertumbuhan kembali Gunungapi Anak Krakatau hingga 16 Desember 2023. Jeda erupsi cukup lama berlangsung hingga kembali menghasilkan erupsi 2 Juli 2026.
Sejak 2 Juli 2026, status aktivitas Gunung Anak Krakatau berada pada Level III (Siaga). Seri erupsi tipe Strombolian yang menghasilkan lontaran batu pijar dan abu vulkanik terus berlangsung hingga 5 September 2026.
Pada 5 September 2026 pukul 23.07 WIB, Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi menerus yang disertai dengan suara gemuruh. Sampai 5 September 2026, pukul 04.40 WIB masih berlangsung erupsi menerus dan masih terdengar gemuruh dari Pos PGA Krakatau Pasauran dari erupsi menerus GAK.
Tinggi kolom erupsi tidak teramati, akan tetapi warna merah menyala semburan erupsi terlihat jelas secara menerus. Fenomena erupsi ini menyerupai “lava fountain” atau lava air mancur yang menghasilkan aliran lava.
Erupsi menerus dalam durasi beberapa jam yang berasosiasi dengan erupsi lava air mancur adalah fenomena umum yang sering terjadi. Suara dentuman dan getaran yang dilaporkan masyarakat di sejumlah wilayah Jawa Barat, Banten, dan Lampung diduga berkaitan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang berlangsung pada waktu bersamaan.
(Arief Setyadi )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.