Namun pernyataan pihak kampus langung dibantah Rani. Dia membeberkan, jika sebenarnya segala upaya telah ditempuh untuk menemui Ani Yuliani sebagai ketua yayasan. Termasuk dengan mendatangi rumah, menghubungi asistennya, bahkan pernah pula meminta bantuan salah satu dokter yang dekat dengan Ani Yuliani.
"Sudah segala macam cara saya berusaha menemui beliau, tapi tidak ada respon. Selalu batal dengan alasan beliau sibuk, sakit. Saya juga pernah bertemu langsung, tapi beliau bilang saya disuruh menghadap ke pihak kampus, begitu saya menemui pihak kampus dilempar lagi harus menemui bu Ani. Jadi saya nggak habis pikir, apa yang salah dari saya," terang Rani sambil terisak menangis.
Dalam pertemuan itu, tak hanya Rani yang terbawa emosi hingga menangis, namun suaminya ikut pula memertanyakan kebijakan kampus yang tiba-tiba membatalkan wisuda Rani. Dikatakan, tak ada hal yang subtantif hingga berujung pembatalan wisuda dan penahanan ijazah.
"Ada apa dengan pembatalan itu? itu bukan ditunda kok, itu dibatalkan. Dia sudah terima undangan, terima toga, ikut gladi bersih, tiba-tiba sesaat menjelang hari wisuda dibatalkan," tegas Abdul Hamim Jauzie, Ketua LBH Keadilan membantah pernyataan kampus.
Akhirnya pihak kampus menyerahkan ijazah Rani. Turut menyaksikan Asisten Daerah (Asda) 1 Pemkot Tangsel, Rahmat Salam, beserta jajaran kampus STIKes IMC Bintaro. Setelah menerima ijazah, semua pihak saling bersalaman dan menganggap persoalan yang sempat ramai itu dinyatakan selesai.
(Salman Mardira)